Pandemi Belum Selesai, Waspada Demam Berdarah Melanda

11

Saat Indonesia masih berjuang terhadap peningkatan jumlah kasus pasien terinfeksi Covid-19, masyarakat harus kembali menerima fakta bahwa masih ada penyebaran demam berdarah.

Melalui laman YouTube resmi BNPB, telah diungkapkan bahwa saat ini Kementerian Kesehatan mencatat sudah ada lebih dari 65.000 kasus demam berdarah yang tercatat di seluruh Indonesia dengan angka kematian hampir 400 jiwa.

Berangkat dari hal tersebut, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid selaku Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan memberi penjelasan bahwa ada perbedaan terhadap jadwal puncak kasus demam berdarah, yang biasanya terjadi pada bulan Maret, namun tahun ini bertambah hingga bulan Juni.

“Artinya bahwa angka ini merupakan sesuatu yang berbeda pada tahun-tahun sebelumnya. Kita melihat bahwa sampai saat ini kita masih menemukan kasus antara 100-500 kasus perhari. Jadi kalau kita melihat jumlah kasus yang tadi disampaikan di seluruh Indonesia dimana tentunya kalau kita melihat kembali pada provinsi yang ada itu adalah provinsi yang juga dengan kasus Covid tertinggi dan juga kasus demam berdarah yang tertinggi” ujar Nadia melalui laman YouTube BNPB.

Nadia juga menjelaskan bahwa provinsi yang mengalami peningkatan jumlah kasus demam berdarah berbanding lurus dengan provinsi yang tinggi jumlah kasus Covid-19. Provinsi tersebut diantaranya adalah Jawa Barat, Lampung, NTT, Jawa Timur dan Jawa Tengah, Yogyakarta dan Sulawesi Selatan.

“Disini kita melihat bahwa demam berdarah ini juga menimbulkan angka kematian. Jadi angka kematian kita saat ini sudah mencapai angka 346. Dari 460 kabupaten kota yang melaporkan ada kasus deman berdarah, sebanyak 439nya itu adalah kapubaten kota yang juga melaporkan adanya Covid. Jadi ini ada infeksi ganda.” Ujar Nadia menambahkan.

Bagi masyarakat yang tengah terinfeksi virus Covid-19 juga sangat mungkin akan terinfeksi demam berdarah karena memang prinsipnya sama. Demam berdarah merupakan sebuah penyakit yang belum ada obatnya serta vaksin yang belum terlalu efektif. Salah satu upaya untuk mencegahnya adalah menghindari dari gigitan nyamuk.

Berbeda dengan Covid-19 yang lebih mudah menyerang warga dengan usia lanjut, demam berdarah bisa menyerang segala kelompok umur, salah satunya remaja. Hal ini diungkapkan oleh dr. Mulya Rahma Karyanti, SpA(K), Ahli infeksi dan pedriati tropik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Ia juga menyampaikan beberapa gejala demam berdarah yang harus diwaspadai dan segera ditangani.

“Kalau demam yang terus menerus tinggi biasanya khas infeksi virus itu tinggi, 39 kadang sampai 40. Kalau demam 2-3 hari gak membaik segera ke rumah sakit. Tapi pada DBD memang gejala batuk bisa saja terjadi namun hanya 10-15% kecil presentasinya, dan tidak merasa sesak tidak seperti Covid yang lebih ke saluran pernafasan atas keluhannya. Tetapi lebih kepada demam, pendarahan kulit yang harus diwaspadai seperti mimisan, gusi berdarah atau memar.” ungkap dr. Mulya Rahma. (AA)