10 Fashion Brand Yang Mengusung Tema Zero Waste

Dunia fashion berkembang pesat dari tahun ke tahun, menyebabkan retail fashion dunia bergerak cepat untuk memenuhi permintaan pelanggan yang ingin mengikuti trend terbaru saat ini. Perkembangan fashion yang cepat ini menyebabkan sampah tekstil atau baju yang dibuang karena sudah terpakai lagi. Sampah tekstil membutuhkan waktu untuk terurai, bisa mencapai 1-5 tahun sampah tekstil ini dapat terurai dengan benar. Oleh sebab itu banyak sekali fashion designer atau brand di dunia sudah melakukan zero waste design, untuk mengurangi sampah tekstil ini makin menumpuk. Ini dia 10 fashion designer atau brand yang memakai zero waste design.

1. Bethany Williams

sumber: bethany-williams.com

Fashion designer asal London, Inggris ini percaya bahwa masalah sosial dan lingkungan berjalan beriringan. Melalui eksplorasi hubungan antara isu-isu ini kita dapat menemukan solusi desain inovatif untuk masa depan.Setiap garmen 100% dibuat di Inggris dan kancingnya pun dibuat tangan di Lake District.

2. Ecoalf

sumber: ourgoodbrands.com

Fashion brand asal Spanyol yang satu ini mendirikan prinsip daur ulang yaitu merubah plastik bekas menjadi baju. Brand ini menggunakan 100% bahan daur ulang sebagai material desainnya.

3. Doodlage

sumber: doodlage.in

Brand asal India, Doodlage adalah gabungan sempurna dari fashion dan inovasi. Mereka menggunakan kain ramah lingkungan, seperti katun organik, kain jagung, dan kain pisang. Sumber lainnya diperoleh dari sisa tekstil atau kualitas tekstil yang dibuang oleh pabrik besar, yang menyebabkan “limbah”. Doodlage juga menggunakan kain yang diperoleh dari pengecer lain atau kain perca.

Baca juga  PERURI Sign, Tanda Tangan Digital Dokumen Anda dengan Aman

4. Re;code

sumber: deuxhomm.es

Re;code adalah merek Korea yang mempunyai spesialisai dalam upcycling. Setiap baju atau item dalam koleksi mereka memiliki cerita sendiri – sendiri dan menciptakan nilai baru sebagai pengganti limbah. Mereka bekerja dengan orang-orang cacat mental dan ‘GoodWill Store’ untuk mendekonstruksi bahan-bahan bekas yang siap untuk dirancang ulang.

5. Bundgaard Nielsen

sumber: designforlongevity.com

Bungaard Nielsen sebuah laboratorium kerjanian yang berbasis di Copenhagen, Denmark. ‘Circle 2 Dress’ yang digambarkan di atas adalah suatu pemberontakan terhadap standardisasi desain pakaian, melainkan menawarkan baju yang dapat fleksibel ukuran.

6. Suave

sumber: suavekenya.com

Suave fashion brand asal Kenya ini mempunyai misi tentang menghidupkan kembali kehidupan lama, dengan menciptakan tas punggung berwarna, tas selempang dan laptop yang terbuat dari kain daur ulang dan kain budaya Afrika. Mereka mengambil bahan-bahan dari kain bekas dan kulit yang tidak terpakai, bekerja sama dengan pedagang, pabrik, dan tukang kulit bekas.

7. Zurita

sumber: ecofashiontalk.com

Zurita adalah koleksi pakaian wanita etnik dengan kerajinan dari warisan Amerika Latin. Bekerja dengan serat unta seperti alpaka, katun pima organik dan sutra, dengan potongan geometris dan mempunyai siluet yang longgar, setiap koleksi diproduksi dalam berbagai warna alami dari abu-abu hingga coklat, hitam ke putih, biru dan kuning.

Baca juga  Waspada! WHO Mengumumkan Penyebaran Covid-19 Lewat Udara

8. Karen Glass

sumber: cp.wabe.org

Menggunakan konsep upcycle, Karen Glass designer asal Amerika ini menggunakan sisa – sisa kain untuk membuat dasar desain koleksi zero wastenya. Dia membutuhkan waktu bertahun – tahun untuk membentuk estetik desainnya. Kain bekas yang digunakan dia peroleh dari pasar loak di Clignancourt, Paris.

9. Daniel Silverstein

sumber: squarespace.com

Fashion designer yang membuat kain perca menjadi bahan baru ini menjadi designer yang paling dicari di New York untuk zero waste design. Daniel memakai teknik “Re-Roll” yaitu teknik menjahit potongan kain bersama – sama sehingga membuat pola yang unik dan imajinatif dan menghasilkan seni pop culture pada koleksinya.

10. Qi Wang

sumber: qiwang.space

Qi Wang seorang fashion designer lulusan Parsons ini mengusung tema zero waste pada rancangan tesisnya. Dengan desain berpola geometris yang menciptakan ilusi optik mesmerik ini menggunakan bahan bekas yang dia kumpulkan dari pembuangan sampah dan di pilih kembali olehnya kain yang berserat halus. (Penulis: DP)

Translate »