Menjelang Idul Adha, banyak umat Muslim mulai mempersiapkan ibadah kurban. Namun, tidak sedikit yang masih bingung soal prioritas niat kurban, terutama ketika ingin menghadiahkan pahala kurban untuk orang tua.
Pertanyaan seperti “lebih baik kurban untuk diri sendiri dulu atau orang tua?” cukup sering muncul, khususnya bagi anak yang ingin berbakti dan membahagiakan orang tuanya melalui ibadah kurban.
Lalu, bagaimana sebenarnya pandangan dalam Islam mengenai hal ini?
Kurban pada Dasarnya Dianjurkan untuk Diri Sendiri
Dalam pelaksanaannya, ibadah kurban pada dasarnya dilakukan atas nama diri sendiri sebagai bentuk ibadah dan pendekatan diri kepada Allah SWT.
Salah satu dalil yang sering dijadikan rujukan mengenai kurban untuk diri sendiri dan keluarga adalah hadis Rasulullah SAW berikut:
“Ya Allah, terimalah kurban dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan umat Muhammad.”
(HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW berkurban atas nama dirinya sekaligus keluarganya. Dari sini, banyak ulama menjelaskan bahwa mendahulukan kurban untuk diri sendiri merupakan hal yang dianjurkan, namun pahala dan niatnya juga dapat mencakup keluarga maupun orang tua.
Karena itu, banyak ulama menjelaskan bahwa seseorang yang mampu dianjurkan terlebih dahulu berkurban untuk dirinya sendiri. Hal ini juga mengikuti contoh Rasulullah SAW yang berkurban atas nama dirinya dan keluarganya.
Dengan berkurban atas nama diri sendiri, seseorang telah menjalankan sunnah muakkadah atau sunnah yang sangat dianjurkan bagi Muslim yang mampu.
Bolehkah Mendahulukan Orang Tua?
Meski demikian, berkurban untuk orang tua juga diperbolehkan, terutama sebagai bentuk hadiah pahala dan bakti kepada mereka.
Jika orang tua masih hidup, sebagian ulama membolehkan kurban diniatkan untuk keluarga atau orang tua, terlebih jika memang menjadi bentuk perhatian dan kasih sayang anak kepada orang tuanya.
Sementara jika orang tua sudah meninggal dunia, para ulama juga membolehkan menghadiahkan pahala kurban untuk mereka sebagai bentuk doa dan amal kebaikan.
Jika Dana Terbatas, Mana yang Sebaiknya Didahulukan?
Dalam kondisi dana terbatas dan baru mampu membeli satu hewan kurban, banyak pendapat menganjurkan untuk mendahulukan kurban atas nama diri sendiri terlebih dahulu.
Namun, jika ingin sekaligus menghadiahkan pahala kepada orang tua, niat tersebut juga bisa disertakan dalam doa. Sebagian orang juga memilih berkurban atas nama keluarga agar pahala dan keberkahannya dapat dirasakan bersama.
Yang terpenting, ibadah kurban dilakukan dengan niat ikhlas dan sesuai kemampuan tanpa memaksakan diri.
Esensi Kurban Bukan Sekadar Nama
Pada akhirnya, inti dari ibadah kurban bukan semata-mata soal atas nama siapa hewan disembelihkan, melainkan tentang ketakwaan, keikhlasan, dan bentuk ketaatan kepada Allah SWT.
Kurban juga menjadi simbol kepedulian sosial, pengorbanan, serta rasa syukur atas rezeki yang dimiliki.
Bagi Scarflover yang masih bingung menentukan prioritas kurban, hal terpenting adalah menyesuaikan dengan kemampuan dan niat terbaik yang dimiliki. Sebab dalam Islam, setiap amal sangat bergantung pada niat dan ketulusan hati orang yang menjalankannya.








