Chanel Sulap Runway Menjadi Atelier Seni yang Hidup, Saat Setiap Look Menjadi Sebuah Karya Seni

Chanel menghadirkan live fashion illustration, dunia dongeng, dan detail couture yang memukau, menjadikan setiap look tak sekadar busana, melainkan sebuah karya seni.

Bagaimana jika sebuah fashion show tak hanya menghadirkan deretan busana couture, tetapi juga melahirkan karya seni secara langsung?

Itulah yang terjadi pada presentasi Chanel Haute Couture Fall/Winter 2026-2027. Saat para model berjalan di atas runway, seorang seniman duduk di sisi catwalk dengan palet cat air di tangannya. Bukan sekadar menyaksikan, ia mengabadikan setiap look dalam bentuk ilustrasi yang dilukis saat itu juga. Setiap sapuan kuas mengikuti irama langkah para model, menangkap siluet, warna, hingga karakter busana dalam hitungan menit.

Momen tersebut terasa begitu puitis. Di tengah era fotografi dan media sosial yang serba instan, Chanel justru menghidupkan kembali tradisi ilustrasi fashion mengingatkan bahwa sebelum kamera menjadi medium utama, koleksi haute couture lebih dulu dikenang lewat goresan tangan para seniman.

Namun, pertunjukan musim ini bukan hanya tentang proses melukis. Sejak langkah pertama memasuki venue, Chanel sudah mengajak para tamu meninggalkan dunia nyata dan memasuki sebuah negeri dongeng.

Ketika Dongeng Menjadi Inspirasi Couture

Di bawah arahan kreatif Matthieu Blazy, Chanel menghadirkan koleksi yang terinspirasi dari kisah-kisah yang tumbuh bersama masa kecil banyak orang. Mulai dari Jack and the Beanstalk hingga Goldilocks and the Three Bears, berbagai cerita klasik diterjemahkan menjadi dunia couture yang dipenuhi imajinasi.

Baca juga  Luxury Brand Chanel akan Produksi Alat Perlindungan Diri

Di tengah runway berdiri instalasi raksasa menyerupai pohon dengan sulur-sulur hijau yang menjalar hingga ke langit-langit ruangan. Bunga-bunga berukuran besar bermekaran di setiap sudut, menciptakan suasana bak hutan ajaib yang menjadi panggung sempurna bagi koleksi musim ini.

Setiap Look Menyimpan Cerita

Sulaman dedaunan tampak menjalar lembut di atas organza transparan, sementara bunga-bunga tiga dimensi bermekaran dari permukaan kain melalui perpaduan bordir, payet, manik-manik, dan lipatan tekstil yang dikerjakan dengan teknik haute couture khas Chanel.

Ada gaun bernuansa hijau yang terlihat seperti diselimuti tanaman merambat hidup, lengkap dengan bunga-bunga eksotis yang seolah baru saja mekar. Di sisi lain, siluet berwarna krem dipenuhi ratusan bunga hitam berbahan tulle yang memberikan dimensi dramatis sekaligus ringan saat bergerak.

Image: Vogue France

Keajaiban koleksi ini bahkan berlanjut hingga ke aksesori. Sebuah sepatu slingback hadir dengan hak berbentuk peri berwarna emas, seakan tokoh dongeng benar-benar menopang setiap langkah model. Ada pula bunga-bunga yang tampak “menjebak” kupu-kupu, hingga berbagai detail kecil yang membuat setiap look terasa seperti halaman dari sebuah buku cerita.

Tak ada satu pun elemen yang terasa dibuat sekadar sebagai hiasan. Semuanya menjadi bagian dari narasi yang saling terhubung.

Baca juga  Sejarah Gucci Jackie 1961, Tas Bulan Sabit Favorit Istri John F. Kennedy

Fashion dan Seni Berjalan Berdampingan

Di antara seluruh detail couture yang memukau, kehadiran sang ilustrator justru menjadi simbol paling indah dari keseluruhan presentasi.

Saat para model berlalu, setiap look langsung diterjemahkan menjadi lukisan cat air yang ekspresif. Hasilnya memang tidak dibuat sempurna seperti sebuah foto, tetapi justru di situlah letak pesonanya. Ilustrasi tersebut menangkap emosi, gerakan, dan energi dari setiap busana sesuatu yang sering kali tak bisa direkam oleh kamera.

Runway pun berubah menjadi sebuah studio seni, tempat mode tidak hanya diperagakan, tetapi juga diciptakan kembali melalui medium yang berbeda.

Image: Vogue France

Presentasi Chanel kali ini terasa seperti sebuah pengingat bahwa mode tidak selalu harus berbicara tentang tren. Terkadang, ia hadir untuk membangkitkan rasa kagum, menghidupkan kembali imajinasi, dan membawa kita sejenak kembali pada dunia yang penuh cerita.

Lewat sentuhan Matthieu Blazy, dongeng tidak lagi hidup di dalam buku, melainkan menjelma menjadi sulaman, bunga, aksesori, hingga langkah para model di atas runway. Dan ketika setiap look diabadikan lewat sapuan kuas seorang seniman, Chanel seolah menegaskan satu hal haute couture bukan hanya untuk dikenakan, tetapi juga untuk dirasakan, dikenang, dan diapresiasi layaknya sebuah karya seni.

Translate »