Selama bertahun-tahun, jam tangan berbentuk bulat dianggap sebagai desain paling klasik dan aman untuk digunakan. Namun belakangan, tren tersebut mulai bergeser. Di kalangan kolektor maupun pencinta fashion, jam tangan dengan bentuk yang tidak biasa atau dikenal sebagai shaped watch justru semakin diminati.
Mulai dari desain persegi, oval, hingga bentuk asimetris yang tampak “meleleh”, model-model ini kembali mencuri perhatian karena menawarkan karakter yang berbeda. Tak hanya menjadi penunjuk waktu, shaped watch kini juga dipandang sebagai bagian dari ekspresi gaya sekaligus karya desain yang memiliki nilai sejarah.

Salah satu model yang paling ikonik adalah Cartier Crash. Jam tangan yang pertama kali diperkenalkan pada akhir 1960-an ini dikenal lewat bentuk casing yang tidak simetris. Alih-alih mengikuti desain bulat seperti kebanyakan jam tangan, Cartier Crash hadir dengan siluet yang tampak melengkung dan tidak beraturan, menjadikannya salah satu desain paling berani pada masanya.
Di balik tampilannya yang unik, Cartier Crash juga memiliki kisah yang menarik. Konon, desainnya terinspirasi dari sebuah jam tangan yang rusak akibat kecelakaan mobil. Meski cerita tersebut masih menjadi bagian dari legenda di kalangan kolektor, bentuk “meleleh” yang menjadi ciri khasnya berhasil menciptakan identitas yang sulit ditiru.
Saat pertama kali diperkenalkan, desain Cartier Crash sempat dianggap terlalu eksperimental. Bahkan, pihak Cartier sendiri dikabarkan ragu untuk memproduksinya karena khawatir tampilannya terlalu nyentrik bagi pelanggan setianya. Namun, keraguan tersebut justru berbalik menjadi kesuksesan. Unit pertama langsung terjual, dan seiring berjalannya waktu, Cartier Crash menjelma menjadi salah satu jam tangan paling diburu para kolektor.

Nilainya pun terus meningkat. Salah satu Cartier Crash produksi tahun 1970 pernah terjual lebih dari 800 ribu franc Swiss dalam sebuah lelang internasional, jauh melampaui estimasi awalnya. Harga tersebut menunjukkan bahwa kolektor kini tidak hanya mencari merek ternama, tetapi juga desain yang memiliki cerita dan kelangkaan.
Fenomena ini sekaligus mencerminkan perubahan selera di dunia horologi. Jika dahulu desain klasik dan simetris menjadi pilihan utama, kini banyak orang justru tertarik pada jam tangan yang memiliki bentuk tidak biasa. Selain tampil lebih berbeda, shaped watch juga dinilai mampu memberikan sentuhan personal dan menjadi statement dalam berpenampilan.

Meski Cartier Crash menjadi salah satu contoh paling terkenal, tren shaped watch sebenarnya bukan hal baru. Sejak awal perkembangan jam tangan, berbagai rumah mode dan pembuat jam telah bereksperimen dengan bentuk persegi, persegi panjang, hingga oval. Bahkan, salah satu jam tangan yang dipercaya sebagai wristwatch pertama di dunia buatan Breguet pada tahun 1810 hadir dalam bentuk lonjong, bukan bulat.
Kini, sejumlah brand kembali menghadirkan koleksi shaped watch dengan interpretasi modern. Kehadirannya membuktikan bahwa desain klasik tidak selalu identik dengan bentuk bulat. Justru, bentuk yang berani dan tidak konvensional mampu memberikan daya tarik tersendiri bagi para pencinta jam tangan.
Di tengah tren fashion yang semakin mengedepankan karakter personal, jam tangan kini tak lagi sekadar berfungsi sebagai penunjuk waktu. Bentuk, desain, hingga cerita di balik pembuatannya menjadi bagian dari alasan mengapa sebuah jam begitu diminati. Tak heran jika shaped watch kembali naik daun dan menjadi salah satu investasi gaya yang menarik untuk dilirik.








