PINTU sebagai Gateway Brand Indonesia menuju Pasar Global

Melalui inkubasi, mentoring, dan kolaborasi lintas negara, PINTU membantu talenta mode Indonesia berani berdiri sejajar di panggung global.

Sebuah brand mode tidak lahir hanya dari selembar kain, potongan pola, atau sebuah ide desain. Di baliknya ada perjalanan panjang untuk menemukan identitas, memahami pasar, membangun bisnis, hingga menentukan bagaimana sebuah karya ingin dikenal oleh dunia.

Bagi industri mode Indonesia, perjalanan tersebut memiliki tantangan sekaligus peluang yang besar. Kekayaan budaya, teknik kriya, tekstil Nusantara, dan kreativitas desainer Indonesia merupakan modal yang kuat. Namun, untuk membawa kekuatan tersebut melewati batas geografis, dibutuhkan lebih dari sekadar kreativitas. Dibutuhkan ekosistem yang mampu membuka akses terhadap pengetahuan, jejaring, pengalaman profesional, dan kolaborasi lintas budaya.

Image: JF3

Semangat itulah yang dihadirkan PINTU Incubator melalui tema “Beyond Borders: How PINTU Shapes Indonesia Brand for the World.” Memasuki tahun kelima pada 2026, PINTU semakin memperkuat perannya sebagai ruang yang mempersiapkan talenta mode Indonesia untuk melihat peluang di luar batas lokal, sekaligus tetap berpijak pada identitas yang menjadi kekuatan mereka.

PINTU Incubator merupakan inisiatif bersama JF3, LAKON Indonesia, dan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia melalui Institut français d’Indonésie (IFI). Sejak diluncurkan pada 2022, program ini telah menarik minat lebih dari 10.000 brand dan desainer.

Pada 2026, sebanyak 39 pendaftar mengikuti proses seleksi. Setelah melewati rangkaian seleksi, 10 peserta terpilih mengikuti program inkubasi dan lima di antaranya mendapat kesempatan mempresentasikan koleksi di JF3 Fashion Festival 2026. Kelima peserta tersebut adalah Saul Studio, Toja House, ALDRIE, ANDREAN NR, dan DACIA.

Bukan Sekadar Membawa Brand ke Dunia

Ada satu hal yang membuat perjalanan sebuah brand menuju pasar global tidak sesederhana membawa koleksi ke luar negeri. Sebelum berbicara tentang ekspansi, sebuah brand perlu memahami siapa dirinya, apa yang membuatnya berbeda, serta nilai apa yang ingin dibawa kepada audiens.

PINTU menjadikan proses tersebut sebagai bagian penting dari perjalanan peserta. Pada 2026, program ini menghadirkan 39 sesi pengembangan kapasitas yang membahas berbagai aspek industri, mulai dari strategi bisnis, merchandising, pengembangan produk, komunikasi, hukum dan kekayaan intelektual, ekspor-impor, keuangan, hingga styling.

Sebanyak 18 mentor dari Indonesia dan Prancis turut terlibat untuk memberikan perspektif dari berbagai bidang. Dengan pendekatan tersebut, peserta tidak hanya diajak menghasilkan koleksi yang menarik secara visual, tetapi juga memahami bagaimana sebuah brand dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Thresia Mareta, Co-Initiator PINTU Incubator sekaligus Founder LAKON Indonesia, melihat proses tersebut sebagai perjalanan untuk membantu setiap talenta menemukan arah mereka sendiri.

“Kami percaya bahwa talenta tidak selalu tumbuh karena diberi lebih banyak jawaban. Sering kali, mereka justru berkembang ketika dipertemukan dengan pengalaman, sudut pandang, dan pertanyaan yang tepat. PINTU kami bangun sebagai ruang untuk menjalani proses itu—mengenali kekuatan, melihat kembali apa yang belum bekerja, dan memahami ke mana sebuah karya ingin dibawa,” ujar Thresia Mareta.

Pandangan tersebut menjadi penting karena tujuan sebuah inkubator bukan menciptakan brand dengan karakter yang seragam. Sebaliknya, setiap peserta diberi kesempatan untuk menemukan keunikan dan kekuatan yang dapat menjadi fondasi perjalanan mereka.

Baca juga  Tak Lagi Serba Instan, Ini Arah Tren Perawatan Wajah Ramadan Lebaran 2026

Dari Panggung Lokal Menuju Percakapan Global

Bagi Soegianto Nagaria, Chairman JF3 Fashion Festival sekaligus Co-Initiator PINTU Incubator, ekosistem memiliki peran penting dalam membentuk perjalanan panjang seorang pelaku industri.

“Sejak awal, JF3 tidak hanya ingin menyediakan panggung, tetapi juga menjadi bagian dari proses pertumbuhan para pelaku industri. Melalui PINTU, kami membangun ruang yang mempertemukan talenta dengan pengetahuan, mentor, jejaring, pengalaman profesional, dan peluang kolaborasi. Kami percaya bahwa ekosistem yang kuat harus mampu mendampingi mereka untuk terus berkembang dalam jangka panjang,” ujar Soegianto Nagaria.

Dari sinilah gagasan Beyond Borders menemukan maknanya. Batas bukan hanya persoalan geografis antara Indonesia dan negara lain, melainkan juga batas pengetahuan, akses, pengalaman, dan keberanian untuk berkembang.

PINTU Accelerator menjadi salah satu ruang yang memperlihatkan bagaimana batas tersebut dapat dibuka. Brand Indonesia DENIMITUP, misalnya, mengembangkan kolaborasi dengan label Prancis TAREET. Dua pendekatan kreatif dari latar yang berbeda dipertemukan dalam proses pengembangan koleksi bersama.

Sementara itu, Lil Public berpartisipasi dalam pertunjukan tahunan École Duperré di Paris pada awal Juli 2026. Kesempatan tersebut menjadi bagian dari hubungan yang berkembang antara PINTU dan institusi pendidikan mode Prancis, sekaligus memberikan pengalaman bagi brand Indonesia untuk berinteraksi langsung dengan lingkungan mode internasional.

Artinya, perjalanan global tidak selalu harus dimulai dengan membuka toko di negara lain. Ia bisa dimulai dari sebuah kolaborasi, sebuah ruang belajar, atau bahkan kesempatan untuk memperkenalkan karya kepada audiens baru.

Image: JF3

Identitas Indonesia yang Berdialog dengan Dunia

Semangat lintas batas juga terlihat dalam PINTU Residency. Memasuki penyelenggaraan keduanya, program ini mempertemukan dua desainer Indonesia dan dua desainer Prancis dalam residensi selama empat bulan.

Di Lombok, desainer Prancis Mickaël Nana berkolaborasi dengan desainer Indonesia Beatrice Angelica untuk mengembangkan koleksi GARUDA. Koleksi tersebut mempertemukan pendekatan tailoring Barat dengan tenun dan songket Lombok melalui interpretasi kontemporer terhadap simbol Garuda.

Sementara di Mojokerto, Lisa Rayar dan Gabriel Marcella mengembangkan koleksi AU LARGE. Terinspirasi dari tradisi maritim Prancis dan budaya pesisir Jawa, koleksi tersebut memadukan batik, struktur tailoring, dan referensi seragam ke dalam siluet kontemporer.

Baca juga  Fashion Item Kekinian untuk Maksimalkan Style Saat Ramadan

Kolaborasi ini memperlihatkan bahwa identitas lokal tidak harus disimpan sebagai sesuatu yang eksklusif di dalam negeri. Justru, ketika dipertemukan dengan perspektif berbeda, warisan budaya dapat melahirkan bahasa kreatif baru yang lebih universal.

Bagi industri mode Indonesia, pendekatan tersebut menjadi penting. Dunia tidak hanya membutuhkan produk yang berasal dari Indonesia, tetapi juga cerita, perspektif, craftsmanship, dan identitas yang membuat produk tersebut memiliki karakter.

Image: JF3

Saul Studio dan Bab Berikutnya

Salah satu peserta PINTU Incubator 2026, Saul Studio, membawa gagasan tentang perjalanan dan pertumbuhan perempuan melalui koleksinya. Konsep tersebut terasa selaras dengan perjalanan sebuah brand yang juga terus berkembang, melewati berbagai fase, menemukan kembali identitas, dan berani membuka bab baru.

Image: JF3

Saul Studio menggambarkan koleksinya sebagai perayaan terhadap perempuan yang terus bertumbuh. Setiap fase kehidupan membentuk dirinya menjadi lebih kuat tanpa melupakan perjalanan yang telah dilalui.

Image: JF3

“Ini adalah tentang keberanian melangkah menuju mimpi yang lebih besar, dan percaya bahwa setiap akhir selalu membawa awal yang baru. Karena setiap perempuan, seperti setiap brand, selalu memiliki bab berikutnya untuk ditulis,” ungkap Saul Studio.

Image: JF3

Kutipan tersebut seolah menjadi gambaran sederhana tentang apa yang terjadi dalam ekosistem PINTU. Sebuah brand tidak berhenti pada koleksi yang ditampilkan hari ini. Ada perjalanan berikutnya yang harus ditulis, pasar baru yang mungkin dijelajahi, kolaborasi yang dapat dikembangkan, serta tantangan yang akan membentuk karakter brand tersebut.

Membuka PINTU, Memperluas Kemungkinan

Pada akhirnya, membawa brand Indonesia menuju dunia bukan sekadar persoalan memperluas pasar. Lebih jauh, perjalanan tersebut merupakan proses untuk membangun kesiapan dan kepercayaan diri agar talenta Indonesia mampu hadir dalam percakapan mode global dengan identitasnya sendiri.

PINTU memahami bahwa perjalanan tersebut membutuhkan waktu. Karena itu, program ini tidak berhenti pada inkubasi, tetapi berkembang melalui accelerator, residency, kolaborasi internasional, hingga hubungan dengan institusi pendidikan dan ekosistem mode Prancis.

Dimulainya proses pembentukan Yayasan PINTU Incubator Indonesia juga menjadi langkah baru untuk memperkuat kesinambungan program dan memperluas dampaknya bagi ekosistem mode Indonesia.

Lima tahun perjalanan PINTU menunjukkan bahwa sebuah pintu tidak hanya berfungsi sebagai jalan keluar. Ia juga menjadi jalan masuk menuju pengalaman, pengetahuan, pertemuan, dan kemungkinan baru.

Dari Jakarta menuju Paris, dari artisan lokal menuju kolaborasi internasional, dari ruang mentoring menuju panggung mode, perjalanan para peserta PINTU membuktikan bahwa batas bukanlah akhir dari sebuah perjalanan.

Translate »