Perseteruan SHEIN dan Temu Ungkap Sisi Lain Industri Fast Fashion

Isu Copyright hingga Supplier

Persaingan industri ultra-fast fashion global kembali menjadi sorotan. Dua raksasa e-commerce fashion, SHEIN dan Temu, kini kembali berhadapan dalam proses hukum yang berlangsung di London. Kasus ini membuka sisi lain dari bisnis ultra-fast fashion yang selama ini dikenal lewat harga murah, produksi cepat, dan tren yang terus berganti dalam waktu singkat.

Tak hanya soal persaingan bisnis, konflik ini juga menyoroti isu hak cipta, sistem supplier, hingga praktik kompetisi di industri fashion digital global.

Sengketa Hak Cipta Jadi Sorotan

Dalam gugatan yang diajukan ke Pengadilan Tinggi London, Shein menuduh Temu melakukan pelanggaran hak cipta dalam skala besar. Tuduhan tersebut berkaitan dengan penggunaan ribuan foto produk milik Shein yang disebut digunakan untuk memasarkan produk serupa atau identik di platform Temu.

Shein menilai tindakan tersebut memanfaatkan investasi besar yang telah mereka keluarkan, mulai dari produksi visual, pengembangan rantai pasok, hingga pelatihan supplier.

Namun, Temu membantah tuduhan tersebut. Pihak Temu menyebut para merchant di platform mereka memiliki izin untuk menggunakan gambar terkait. Temu juga menilai gugatan itu sebagai upaya untuk menghambat persaingan di industri ultra-fast fashion yang semakin kompetitif.

Baca juga  MUFFEST 2021 Gandaria City Jakarta, Menutup Rangkaian Pameran di Lima Kota Besar Indonesia

Persaingan yang Membuka Sistem Industri Ultra-Fast Fashion

Kasus ini menjadi perhatian karena memperlihatkan bagaimana operasional dua perusahaan ultra-fast fashion bekerja di balik layar. Selama ini, baik Shein maupun Temu dikenal berkembang pesat lewat model bisnis berbasis harga rendah, produksi cepat, dan jaringan supplier besar di China.

Perseteruan ini sekaligus memperlihatkan bagaimana kompetisi di industri fashion digital kini tidak hanya soal desain atau tren, tetapi juga menyangkut data, visual produk, supplier, hingga kecepatan distribusi pasar.

Bukan Hanya Terjadi di Inggris

Dilansir dari laman The Fashion Law, konflik hukum antara SHEIN dan Temu sebenarnya telah berlangsung di beberapa negara, termasuk Amerika Serikat. Pada April lalu, hakim federal di Washington DC bahkan menggabungkan gugatan kedua pihak ke dalam satu proses hukum besar yang mencakup tuduhan pelanggaran hak cipta, persaingan tidak sehat, hingga dugaan penyalahgunaan aturan Digital Millennium Copyright Act (DMCA).

Baca juga  Aleza Laboratory 2024 Hadirkan Workshop Bikin Parfum

Kasus ini disebut menjadi salah satu pertarungan hukum terbesar dalam industri ultra-fast fashion saat ini.

Industri Ultra-Fast Fashion Juga Hadapi Tekanan Regulasi

Di tengah konflik tersebut, kedua perusahaan juga menghadapi tekanan regulasi dari berbagai negara. Amerika Serikat dan beberapa wilayah Eropa mulai memperketat aturan impor dan sistem pengiriman barang lintas negara yang selama ini menjadi kekuatan utama bisnis ultra-fast fashion.

Perubahan regulasi ini dinilai dapat memengaruhi model bisnis perusahaan yang mengandalkan pengiriman cepat dengan harga rendah.

Fast Fashion Kini Tak Lagi Sekadar Soal Tren

Bagi Scarflover, kasus ini memperlihatkan bahwa industri fashion global kini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar mengikuti tren. Di balik kemudahan belanja online dan harga murah, terdapat isu besar mengenai hak cipta, keberlanjutan bisnis, hingga etika industri fashion digital.

Perseteruan antara SHEIN dan Temu juga menjadi pengingat bahwa perkembangan fashion masa kini semakin erat berkaitan dengan teknologi, regulasi, dan persaingan global yang terus berubah.

Translate »