Masa MPASI sering menjadi fase yang dinanti sekaligus membuat sebagian orang tua merasa cemas. Tidak sedikit yang bertanya-tanya apakah si kecil akan mudah menerima makanan baru atau justru menolak karena belum terbiasa dengan rasa dan teksturnya.
Namun, tahukah Scarflovers bahwa upaya untuk mencegah anak menjadi picky eater sebenarnya bisa dimulai jauh sebelum MPASI diberikan? Bahkan, kebiasaan tersebut dapat dibentuk sejak masa kehamilan hingga menyusui. Dengan persiapan yang tepat, momen perkenalan makanan padat bisa menjadi pengalaman yang lebih menyenangkan, baik bagi orang tua maupun si kecil.
Biasakan Mengonsumsi Beragam Makanan Sejak Masa Kehamilan
Apa yang dikonsumsi ibu selama masa kehamilan ternyata memiliki peran dalam proses pengenalan rasa kepada bayi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa janin sudah dapat mengenali cita rasa tertentu melalui cairan ketuban yang dipengaruhi oleh makanan yang dikonsumsi ibu.

Kebiasaan mengonsumsi makanan yang beragam, termasuk sayuran, buah-buahan, dan sumber protein yang berbeda, dapat membantu memperkenalkan berbagai rasa kepada bayi sejak dini. Tidak hanya saat hamil, pola makan yang bervariasi juga sebaiknya dilanjutkan selama masa menyusui karena rasa makanan juga dapat tersalurkan melalui ASI.
Sebuah penelitian yang dilakukan di Australia menemukan bahwa kebiasaan makan orang tua berpengaruh terhadap minat anak dalam mencoba berbagai jenis makanan. Anak yang terbiasa melihat orang tuanya mengonsumsi sayuran, misalnya, cenderung lebih terbuka untuk mencicipi makanan serupa.
ASI Eksklusif Dapat Membantu Anak Lebih Mudah Menerima Makanan Baru
Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan tidak hanya memberikan manfaat dari sisi nutrisi, tetapi juga berkontribusi terhadap perkembangan kebiasaan makan anak.

Anak yang mendapatkan ASI eksklusif diketahui memiliki risiko lebih rendah mengalami food neophobia, yaitu kecenderungan takut atau enggan mencoba makanan baru. Selain itu, mereka umumnya lebih mudah menerima variasi rasa dan memiliki perilaku makan yang lebih baik saat memasuki masa MPASI.
Karena ASI membawa berbagai variasi rasa dari makanan yang dikonsumsi ibu, bayi secara tidak langsung telah diperkenalkan dengan banyak cita rasa sebelum mulai mengonsumsi makanan padat.
Pahami Kesiapan Anak Sebelum Memulai MPASI
Sebelum memperkenalkan makanan pendamping ASI, penting bagi orang tua untuk memahami tanda-tanda kesiapan anak. MPASI idealnya dimulai saat bayi berusia sekitar enam bulan dan telah menunjukkan beberapa kemampuan tertentu, seperti mampu duduk dengan bantuan, menunjukkan ketertarikan pada makanan, serta dapat memindahkan makanan dari sendok ke dalam mulut.
Saat memulai MPASI, Scarflovers tidak perlu terburu-buru mengejar porsi makan yang banyak. Fokus utama pada tahap awal adalah mengenalkan pengalaman baru kepada anak, mulai dari rasa, aroma, hingga tekstur makanan.
Berikan variasi menu secara bertahap agar anak memiliki kesempatan mengenal lebih banyak jenis makanan sejak dini.

Terapkan Aturan Makan yang Konsisten
Membangun kebiasaan makan yang baik juga membutuhkan aturan yang konsisten. Orang tua berperan dalam menentukan jenis makanan, waktu makan, dan lingkungan makan yang nyaman. Sementara itu, anak diberikan kesempatan untuk menentukan apakah ia ingin menghabiskan makanannya atau tidak.
Pendekatan ini sering dikenal sebagai pola asuh autoritatif, yaitu pola asuh yang mengombinasikan aturan yang jelas dengan dukungan dan respons yang hangat kepada anak.
Daripada memaksa anak menghabiskan makanan, cobalah memberikan dorongan positif dan contoh yang baik. Anak umumnya lebih mudah meniru kebiasaan makan orang-orang di sekitarnya dibanding menerima paksaan yang justru dapat menimbulkan pengalaman negatif saat makan.
Jangan Terlalu Khawatir Jika Anak Menolak Makanan
Salah satu kesalahan yang cukup sering terjadi saat MPASI adalah menganggap penolakan makanan sebagai tanda bahwa anak tidak menyukai makanan tersebut.
Padahal, bayi sering kali membutuhkan beberapa kali paparan sebelum benar-benar menerima rasa atau tekstur baru. Ada anak yang memerlukan lima hingga sepuluh kali percobaan, bahkan lebih, sebelum akhirnya mau mengonsumsi makanan tertentu.
Karena itu, penting untuk tetap tenang dan tidak terlalu perfeksionis. Jadikan waktu makan sebagai momen belajar dan eksplorasi, bukan sekadar mengejar jumlah makanan yang masuk ke dalam tubuh anak.
Suasana makan yang santai dan menyenangkan akan membantu anak merasa lebih nyaman saat mencoba berbagai jenis makanan.

Jangan Menunda MPASI Terlalu Lama
Memulai MPASI sesuai usia yang direkomendasikan juga menjadi salah satu langkah penting dalam mencegah picky eater. Pemberian makanan pendamping yang terlambat dapat membuat anak kehilangan kesempatan untuk mengenal berbagai tekstur dan rasa pada waktu yang tepat.
Akibatnya, beberapa anak menjadi lebih sulit menerima makanan baru ketika usianya bertambah.
Oleh karena itu, perkenalkan MPASI secara bertahap mulai usia enam bulan dengan tekstur yang sesuai perkembangan kemampuan makan anak. Seiring waktu, variasi tekstur dan jenis makanan dapat ditingkatkan secara perlahan.
Kesabaran Menjadi Kunci Utama
Pada akhirnya, membentuk kebiasaan makan yang sehat bukanlah proses yang instan. Dibutuhkan waktu, konsistensi, dan kesabaran agar anak terbiasa dengan berbagai jenis makanan.
Scarflovers perlu mengingat bahwa tujuan utama MPASI bukan hanya memenuhi kebutuhan nutrisi, tetapi juga membantu anak mengenal dunia makanan dengan cara yang positif. Dengan memperkenalkan beragam rasa sejak dini, memberikan contoh yang baik, serta menciptakan suasana makan yang menyenangkan, peluang anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang terbuka terhadap berbagai jenis makanan pun akan semakin besar.
Karena itu, jangan terlalu panik jika si kecil sesekali menolak makanan. Nikmati prosesnya, berikan kesempatan bagi anak untuk belajar, dan percayalah bahwa kebiasaan makan yang baik dibangun sedikit demi sedikit setiap hari.








