Kepungan Asap Karhutla, Langit Kalimantan Tengah Berubah Oranye

Potret dampak kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti langit serta mengancam lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Langit berwarna jingga yang menyelimuti Kalimantan Tengah menjadi sorotan sejumlah media internasional. Pemandangan yang terlihat pada Rabu (14/10/2026) ini berkaitan dengan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di wilayah tersebut.

Media Singapura, Channel News Asia (CNA), menyoroti perubahan warna langit di tengah kabut asap yang pekat. Sementara itu, media Thailand, Bangkok Post, juga memberitakan langit berwarna kuning hingga oranye yang menyelimuti kawasan tersebut setelah kebakaran hutan berlangsung selama berbulan-bulan.

Image: REINA / AFP

Di balik pemandangan langit yang tidak biasa ini, ada masalah lingkungan yang perlu mendapat perhatian. Karhutla tidak hanya merusak hutan, tetapi juga berdampak pada hewan, tumbuhan, dan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Hutan menjadi rumah bagi berbagai jenis satwa dan tumbuhan. Ketika kebakaran terjadi, banyak satwa berisiko kehilangan tempat tinggal dan sumber makanan. Kerusakan hutan juga tidak bisa dipulihkan dalam waktu singkat karena alam membutuhkan waktu untuk kembali seperti semula.

Baca juga  Madinah Dinobatkan Sebagai Kota Tersehat di Dunia
Image: REINA / AFP

Dampaknya juga dirasakan oleh masyarakat. Kabut asap dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, mengurangi jarak pandang saat berkendara, dan menyebabkan masalah kesehatan, terutama pada saluran pernapasan. Anak-anak, lansia, dan orang yang memiliki masalah pernapasan perlu lebih berhati-hati saat kualitas udara memburuk.

Kondisi di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, juga menjadi perhatian. Pada Kamis (15/10/2026), kualitas udara di kota tersebut dilaporkan kembali masuk kategori berbahaya akibat kabut asap karhutla. Masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan agar tidak terlalu banyak menghirup asap.

Image: REINA / AFP

Selain itu, kebakaran hutan juga bisa meninggalkan dampak dalam jangka panjang. Tanah yang kehilangan tutupan tumbuhan menjadi lebih rentan terhadap erosi. Sementara itu, rusaknya habitat dapat mengganggu keseimbangan alam dan membuat satwa semakin sulit bertahan hidup.

Baca juga  Karhutla Kembali Meningkat, Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Sejumlah Wilayah

Karena itu, mencegah karhutla menjadi hal yang sangat penting. Pemantauan kawasan rawan kebakaran, pengelolaan lahan yang lebih bertanggung jawab, serta penanganan titik api sejak awal perlu dilakukan untuk mengurangi risiko kebakaran meluas.

Image: REINA / AFP

Langit jingga di Kalimantan Tengah menjadi pengingat bahwa karhutla bukan sekadar peristiwa yang mengubah warna langit. Ada hutan yang rusak, satwa yang kehilangan habitat, dan masyarakat yang harus menghadapi dampak kabut asap. Menjaga hutan Indonesia berarti ikut melindungi alam dan kehidupan yang bergantung padanya, sekarang maupun di masa depan.

Translate »