Scarflovers, influencer sekaligus pemilik brand fashion Lafiye, Fira Assegaf atau yang dikenal sebagai Sashfir, mengungkap pengalaman traumatis yang dialaminya setelah menjadi korban pelecehan seksual berupa perekaman diam-diam atau voyeurism. Peristiwa tersebut terjadi pada April lalu di area toilet perempuan sebuah restoran di kawasan Senopati, Jakarta Selatan.
Melalui unggahan di media sosial, Sashfir menceritakan bahwa dirinya sempat melihat sebuah ponsel disodorkan melewati sekat toilet saat sedang menggunakan fasilitas tersebut. Menyadari adanya tindakan yang mencurigakan, ia segera keluar untuk mencari orang yang diduga merekamnya. Namun, pria tersebut telah melarikan diri ke lantai bawah.

Sashfir kemudian meminta bantuan pihak gedung untuk menelusuri keberadaan pelaku. Ia juga mengingat sejumlah ciri fisik pria tersebut serta ponsel yang diduga digunakan, yakni iPhone berwarna hitam.
“Selama beberapa bulan terakhir aku memendam sesuatu yang mengubah hidupku. Pada bulan April lalu, aku menjadi korban pelecehan seksual berupa perekaman diam-diam (voyeurism) di area toilet perempuan sebuah restoran di Senopati. Dan hari ini, untuk pertama kalinya, aku merasa siap untuk bersuara,” tulis Sashfir dalam unggahannya.
Sashfir Akui Mengalami Trauma Usai Kejadian
Setelah mengalami peristiwa tersebut, Sashfir mengaku harus menghadapi dampak emosional yang tidak mudah. Ia membutuhkan waktu sebelum akhirnya merasa siap untuk menceritakan pengalaman yang telah dipendamnya selama beberapa bulan.
Dalam pernyataannya, Sashfir juga mengungkapkan kekecewaannya setelah mengetahui bahwa pria yang diduga terlibat dalam kejadian tersebut merupakan seorang suami sekaligus ayah dari anak perempuan.

“Yang paling membuatku miris adalah kenyataan bahwa pelakunya merupakan seorang suami sekaligus ayah dari seorang anak perempuan. Sebagai seorang suami dan ayah, ia seharusnya memahami betapa pentingnya memberikan rasa aman dan nyaman bagi perempuan. Namun, ia justru melakukan tindakan tersebut terhadap perempuan lain,” lanjutnya.
Meski masih berusaha memulihkan diri dari pengalaman tersebut, Sashfir memilih untuk menyuarakan kejadian yang dialaminya. Baginya, keberanian untuk berbicara menjadi langkah penting agar persoalan ini tidak berhenti sebagai pengalaman pribadi dan tidak ada perempuan lain yang mengalami kejadian serupa.
Kasus Diserahkan kepada Pihak Berwajib
Sashfir menyatakan bahwa penanganan kasus tersebut telah diserahkan kepada pihak berwajib. Ia berharap proses hukum dapat berjalan dengan baik dan tindakan tegas diberikan kepada pihak yang bertanggung jawab agar kejadian serupa tidak terulang.
“Aku berharap pelaku dapat ditindak dengan tegas agar memberikan efek jera dan tidak ada lagi korban selanjutnya,” tulisnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pihak restoran yang dinilainya telah bersikap kooperatif dalam menangani kasus tersebut, termasuk mengambil tindakan terhadap pegawai yang terlibat.
“Semoga langkah mereka menjadi contoh bahwa kasus seperti ini merupakan persoalan yang serius,” tambahnya.
Pengalaman yang dibagikan Sashfir kembali menyoroti pentingnya keamanan dan privasi perempuan, termasuk di ruang yang seharusnya memberikan rasa aman seperti toilet umum. Tindakan merekam seseorang secara diam-diam tanpa persetujuan bukan sekadar pelanggaran privasi, tetapi juga dapat menimbulkan dampak psikologis bagi korban.
Melalui keberaniannya untuk bersuara, Sashfir berharap perempuan lain yang mengalami kejadian serupa tidak merasa sendirian dalam menghadapi proses pemulihan. Ia juga mengingatkan bahwa setiap bentuk pelecehan seksual perlu ditanggapi secara serius, dengan mengutamakan perlindungan korban dan penanganan yang tepat.








