
Kelezatan Sourdough, Saat Roti Tradisional Menjadi Tren Modern
Simbol kuliner urban terkini
Di tengah gemerlapnya dunia kuliner modern, satu jenis roti klasik justru mencuri perhatian para pencinta makanan berupa sourdough. Tekstur kulitnya yang renyah, aroma asam alami yang khas, dan kelezatan yang terasa “hidup” menjadikan sourdough bukan sekadar tren sesaat, tapi simbol gaya hidup yang kembali menghargai proses dan waktu.
Sourdough atau roti asam ini dibuat dari starter alami atau campuran tepung dan air yang difermentasi tanpa tambahan ragi instan. Proses fermentasi inilah yang menciptakan cita rasa kompleks, ringan di perut, serta tekstur yang sulit ditandingi oleh roti biasa. Tapi kelezatannya tidak datang secara instan. Dibutuhkan ketelatenan, kesabaran, dan ketepatan dalam menjaga “starter” agar roti bisa mengembang dengan sempurna.
Lebih dari itu, sourdough dianggap lebih sehat. Proses fermentasi panjang membantu memecah gluten, menurunkan indeks glikemik, serta meningkatkan kandungan probiotik alami. Ini menjadikannya alternatif yang lebih ramah untuk pencernaan, dibandingkan dengan roti putih komersial yang instan.
Kini, banyak kafe artisan hingga bakery rumahan yang menghadirkan sourdough sebagai menu unggulan. Bahkan di kota-kota besar, sourdough bukan sekadar roti, tapi bagian dari identitas kuliner urban yang menggabungkan cita rasa otentik dengan nilai hidup yang lebih berkesadaran.
Titik Kritis Kehalalan Roti Sourdough: Fermentasi Alami yang Perlu Diperhatikan
Roti sourdough dikenal sebagai salah satu roti paling alami karena menggunakan fermentasi dari wild yeast (ragi liar) dan bakteri asam laktat tanpa ragi instan. Namun, meskipun terlihat sederhana, ada beberapa titik kritis kehalalan yang penting untuk diperhatikan oleh konsumen Muslim, terutama dalam proses pembuatan dan bahan pendukungnya.
1. Sumber Starter (Ragi Alam)
Starter sourdough dibuat dari campuran air dan tepung yang dibiarkan berfermentasi. Secara prinsip, ini halal jika:
- Tidak terkontaminasi oleh bahan najis.
- Tidak menggunakan cairan fermentasi atau “starter warisan” dari produsen non-halal (misalnya bakery yang juga memproduksi produk babi atau alkohol).
Penting untuk mengetahui asal-usul starter, terutama jika membeli dari toko atau bakery yang tidak bersertifikat halal.
2. Bahan Tambahan
Meski bahan dasar sourdough hanya tepung, air, dan garam, beberapa resep menambahkan bahan lain seperti:
- Butter atau susu → pastikan berasal dari sumber halal.
- Enzim, emulsifier, atau improver → sering digunakan pada skala industri, dan bisa berasal dari hewan (harus dipastikan kehalalannya).
- Gula atau madu → halal, tapi jika difermentasi lebih lanjut bisa menjadi alkohol (lihat poin fermentasi).
3. Proses Fermentasi
Fermentasi alami dalam sourdough menghasilkan asam laktat dan sejumlah kecil etanol (alkohol) secara alami. Namun, menurut pandangan para ahli fiqih dan lembaga halal (seperti MUI dan BPJPH):
- Alkohol yang terbentuk secara alami dan tidak disengaja, serta tidak memabukkan dalam jumlah normal konsumsi, tidak membuat produk menjadi haram.
- Artinya, sourdough tetap halal selama alkoholnya bukan hasil tambahan eksternal atau tidak digunakan untuk efek memabukkan.
4. Peralatan Produksi
Jika sourdough diproduksi di tempat yang juga memproses bahan haram (seperti daging babi atau alkohol), maka ada risiko kontaminasi silang (cross-contamination). Oleh karena itu, penting memastikan:
- Kebersihan peralatan sesuai standar halal.
- Tidak tercampur bahan najis selama penyimpanan atau pengemasan.
Untuk Scarflover, penting memastikan produk sourdough berasal dari produsen terpercaya atau bakery yang menjaga prinsip kehalalan, bahkan lebih baik jika telah tersertifikasi halal.