ISPA Saat Kabut Asap, Ini Tindakan yang Perlu Dilakukan

Kabut asap yang muncul akibat kebakaran hutan dan lahan dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan paparan partikel halus yang masuk ke saluran pernapasan. Kondisi ini dapat memicu iritasi hingga memperburuk keluhan pernapasan, terutama pada orang yang memiliki sensitivitas terhadap polusi udara.

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sendiri merupakan kelompok penyakit yang menyerang saluran pernapasan dan dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme. Paparan asap tidak secara langsung berarti seseorang mengalami ISPA, tetapi kualitas udara yang buruk dapat mengiritasi saluran pernapasan dan meningkatkan risiko munculnya atau memburuknya gejala pernapasan.

Karena itu, ketika kabut asap mulai memengaruhi kualitas udara di lingkungan sekitar, Scarflover perlu mengetahui langkah yang tepat untuk melindungi kesehatan pernapasan.

3 men in black jacket and black pants playing with fire
Image: mikhail serdyukov/Unsplash

Batasi Paparan Kabut Asap

Langkah utama yang dapat dilakukan adalah mengurangi paparan terhadap udara yang tercemar. Hindari aktivitas di luar ruangan ketika kabut asap sedang pekat, terutama olahraga atau aktivitas fisik berat.

Jika harus keluar rumah, usahakan memperpendek durasi berada di luar dan gunakan pelindung pernapasan yang sesuai. Pantau pula informasi kualitas udara di wilayah tempat tinggal agar dapat menentukan waktu yang lebih aman untuk beraktivitas.

person in white face mask
Image: Griffin Wooldridge/Unsplash

Gunakan Masker yang Tepat

Ketika berada di lingkungan dengan paparan asap dan partikel halus, gunakan masker yang mampu menyaring partikulat, seperti respirator N95 atau yang setara, dan pastikan terpasang rapat pada wajah.

Masker yang longgar atau memiliki banyak celah tidak memberikan perlindungan optimal terhadap partikel di udara. Penggunaan masker juga perlu disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan bernapas masing-masing individu.

Baca juga  Resep Tamago Sando, Sarapan ala Jepang yang Mudah dan Nikmat

Kurangi Polutan di Dalam Rumah

Kualitas udara di dalam rumah juga perlu diperhatikan karena asap dari luar dapat masuk melalui jendela, pintu, dan celah bangunan.

Saat kualitas udara luar sedang buruk, tutup jendela dan pintu. Hindari aktivitas yang menghasilkan polusi tambahan di dalam rumah, seperti merokok, membakar sampah, menyalakan lilin, atau menggunakan alat yang menghasilkan asap.

Jika tersedia, air purifier dengan filter HEPA dapat digunakan untuk membantu mengurangi partikulat di dalam ruangan.

Tetap Cukupi Kebutuhan Cairan

Paparan asap dapat menyebabkan tenggorokan terasa kering atau teriritasi. Pastikan tubuh mendapatkan cairan yang cukup dengan minum air secara teratur.

Namun, konsumsi cairan bukanlah pengobatan khusus untuk ISPA. Jika sudah muncul gejala, penanganannya perlu disesuaikan dengan penyebab dan tingkat keparahannya.

Jangan Sembarangan Mengonsumsi Obat

Batuk, pilek, atau sakit tenggorokan tidak selalu membutuhkan antibiotik. Sebagian besar ISPA disebabkan oleh infeksi virus sehingga antibiotik tidak bekerja terhadap penyebab tersebut.

Hindari mengonsumsi antibiotik tanpa pemeriksaan dan resep dokter. Untuk obat bebas yang ditujukan meredakan gejala, penggunaannya juga sebaiknya mengikuti aturan pada kemasan atau petunjuk tenaga kesehatan, terutama pada anak-anak, ibu hamil, lansia, atau orang yang memiliki penyakit tertentu.

Perhatikan Gejala yang Muncul

Keluhan seperti batuk, pilek, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, demam, atau tubuh terasa lelah dapat muncul pada infeksi saluran pernapasan. Sementara itu, paparan kabut asap juga dapat menyebabkan mata perih, tenggorokan teriritasi, batuk, dan sesak pada sebagian orang.

Baca juga  5 Jenis Olahraga Ringan Jaga Tubuh Tetap Bugar Setelah Lebaran

Yang perlu diperhatikan adalah perubahan gejala. Jika keluhan semakin berat, berlangsung lebih lama, atau mulai mengganggu aktivitas dan kemampuan bernapas, jangan hanya mengandalkan perawatan mandiri.

Segera Periksakan Diri Jika Gejala Memburuk

Scarflover sebaiknya segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak atau kesulitan bernapas, nyeri atau tekanan di dada, penurunan kesadaran, kebiruan pada bibir atau wajah, atau kondisi tubuh yang memburuk secara signifikan.

Pada anak, perhatian khusus perlu diberikan jika terlihat bernapas cepat atau sulit, sulit minum, sangat lemas, atau tampak tidak seperti biasanya.

Jangan ragu untuk memeriksakan diri ke dokter jika gejala tidak membaik atau justru semakin berat. Dokter dapat melakukan pemeriksaan untuk menentukan apakah keluhan berkaitan dengan infeksi, iritasi akibat paparan asap, atau kondisi pernapasan lainnya, kemudian memberikan penanganan sesuai kebutuhan.

Lebih Waspada pada Kelompok Rentan

Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit paru atau jantung perlu lebih berhati-hati ketika kualitas udara memburuk. Kelompok tersebut dapat mengalami dampak yang lebih berat akibat paparan polusi udara.

Jika kabut asap sedang pekat, prioritaskan aktivitas di dalam ruangan dengan kualitas udara yang baik dan batasi paparan di luar rumah.

Kabut asap memang tidak selalu dapat dihindari, tetapi risikonya dapat diminimalkan dengan mengurangi paparan, menjaga kualitas udara di dalam rumah, menggunakan perlindungan pernapasan yang tepat, serta memperhatikan perubahan kondisi tubuh. Jika muncul tanda bahaya atau keluhan semakin berat, segera periksakan diri ke dokter dan jangan ragu mencari bantuan medis.

Translate »