Gunung Anak Krakatau Alami Erupsi, BMKG Ingatkan Risiko Tsunami Non-Tektonik

Alami 27 letusan dalam dua hari bmkg ingatkan risiko tsunami non-tektonik

Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih menunjukkan aktivitas vulkanik berdasarkan laporan pemantauan pada 19 Agustus 2026. Gunung api terpantau dari kondisi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis dan ketinggian sekitar 10–50 meter dari puncak. Cuaca di sekitar gunung berawan, dengan angin lemah hingga sedang yang bergerak ke arah barat dan barat laut. Suhu udara tercatat sekitar 27–27,8 derajat Celsius dengan kelembapan 83–87 persen.

Image: Magma Indonesia

Pada periode pengamatan yang sama, aktivitas kegempaan Gunung Anak Krakatau tercatat berupa satu kali gempa Low Frequency, satu kali gempa Hybrid/Fase Banyak, dan satu kali gempa Tremor Menerus. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik gunung api masih perlu dipantau secara intensif.

Dalam perkembangan sebelumnya, Gunung Anak Krakatau tercatat mengalami 27 kali letusan dalam dua hari, termasuk enam letusan yang terjadi dalam kurun waktu sekitar tiga jam. Aktivitas tersebut menjadi perhatian karena selain menimbulkan potensi bahaya primer, Gunung Anak Krakatau juga memiliki risiko bahaya sekunder berupa longsoran material ke laut yang dapat memicu tsunami non-tektonik.

Kembali Erupsi pada 16 Agustus 2026

Image: Agung Ginanjar via Reuters

Aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berlanjut hingga pertengahan Agustus 2026. Gunung api yang berada di wilayah Lampung tersebut kembali mengalami erupsi pada Minggu, 16 Agustus 2026, pukul 23.16 WIB. Berdasarkan data erupsi PVMBG melalui aplikasi MAGMA Indonesia, erupsi tersebut tidak teramati secara visual.

Baca juga  Memasuki Oktober, Indonesia Berpotensi Diguyur Hujan Lebat

Meski tidak terlihat secara langsung, aktivitas erupsi terekam melalui seismograf dengan amplitudo maksimum mencapai 60 milimeter dan durasi selama 37 detik. Dalam kurun waktu satu pekan, Gunung Anak Krakatau tercatat telah mengalami 10 kali erupsi.

Image: Agung Ginanjar via Reuters

Catatan kegempaan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih berlangsung dan perlu mendapatkan perhatian. Pemantauan secara instrumental menjadi penting karena tidak seluruh erupsi dapat terlihat secara visual, terutama ketika kondisi cuaca atau jarak pandang tidak memungkinkan pengamatan langsung.

Berstatus Level III atau Siaga

Berdasarkan laporan PVMBG pada 9 Juli 2026, aktivitas Gunung Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga. Saat itu, asap kawah bertekanan lemah hingga sedang teramati berwarna putih dan kelabu, dengan intensitas tipis hingga tebal. Ketinggian asap tercatat sekitar 10–150 meter di atas puncak kawah.

PVMBG juga terus memantau perkembangan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang dapat berlangsung berulang dalam periode relatif panjang, mulai dari hitungan minggu, bulan, hingga tahun. Pemantauan saat ini mencakup perkembangan aktivitas geologi, perubahan muka air laut atau water level, hingga indikasi pergerakan massa batuan.

Ada Risiko Tsunami Non-Tektonik

Peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau tidak hanya perlu diwaspadai karena potensi bahaya primer, seperti guguran awan panas, lava, lontaran batu vulkanik, abu, dan gas. Terdapat pula potensi bahaya sekunder berupa lahar dan longsoran material ke laut.

Baca juga  Tips Jitu Agar Dompet Gak Bolong Saat Belanja Online

Longsoran material vulkanik yang masuk ke laut dapat menyebabkan perpindahan massa air secara tiba-tiba dan memicu tsunami non-tektonik. Risiko ini menjadi perhatian khusus mengingat kawasan Selat Sunda pernah mengalami tsunami pada 2018 yang berkaitan dengan longsoran material dari Gunung Anak Krakatau.

Meski demikian, hingga informasi tersebut disampaikan, BMKG belum mendeteksi adanya tsunami maupun perubahan muka air laut yang menunjukkan indikasi terjadinya tsunami. Masyarakat diimbau tetap tenang, tetapi meningkatkan kewaspadaan dengan mengikuti informasi dan arahan dari lembaga resmi.

Masyarakat Diminta Mengikuti Informasi Resmi

Dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung, masyarakat di sekitar Selat Sunda, termasuk wisatawan dan nelayan, diharapkan mematuhi rekomendasi keselamatan dari PVMBG. Pemantauan terhadap aktivitas gunung api dan kondisi laut akan terus dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan perubahan situasi.

Masyarakat juga disarankan tidak mudah mempercayai informasi yang beredar tanpa sumber yang jelas. Setiap perkembangan mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau maupun potensi tsunami sebaiknya diperoleh melalui kanal resmi BMKG, PVMBG, dan instansi pemerintah terkait.

Translate »