Waspada! Keracunan Makanan Tertentu Bisa Ganggu Fungsi Otak dan Saraf

Keracunan makanan umumnya identik dengan masalah pencernaan, seperti mual, muntah, diare, sakit perut, hingga demam. Namun, pada kondisi tertentu, efeknya ternyata tidak berhenti di saluran pencernaan. Beberapa jenis toksin dan infeksi yang berasal dari makanan dapat memengaruhi sistem saraf dan menyebabkan gangguan neurologis yang serius.

Kondisi ini memang tergolong jarang dan tidak berarti setiap keracunan makanan dapat merusak otak. Namun, beberapa penyakit bawaan makanan dapat menyebabkan gangguan pada saraf, bahkan berujung pada kelemahan otot, kelumpuhan, gangguan keseimbangan, hingga masalah pernapasan.

a computer generated image of a human brain
Image: Shawn Day/Unsplash

Botulisme, Keracunan Makanan yang Menyerang Saraf

Salah satu kondisi yang paling dikenal adalah botulisme, penyakit serius yang disebabkan oleh toksin yang diproduksi bakteri Clostridium botulinum. Pada foodborne botulism, seseorang dapat mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan yang mengandung botulinum toxin.

Berbeda dari keracunan makanan biasa, toksin tersebut bekerja pada saraf dan mengganggu komunikasi antara saraf dengan otot. Akibatnya, seseorang dapat mengalami kelemahan otot yang berkembang dari bagian kepala dan kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Makanan yang tidak diproses, diawetkan, atau difermentasi dengan benar dapat menjadi salah satu sumber botulisme. Makanan kaleng rumahan yang tidak aman juga termasuk yang perlu diwaspadai. Yang membuat kondisi ini semakin berbahaya, toksin botulisme tidak selalu dapat dikenali dari bau, rasa, atau tampilan makanan.

a woman eating a bowl of fruit
Image: Fotos/Unsplash

Gejalanya Bisa Berawal dari Penglihatan

Salah satu hal yang membuat botulisme berbeda dari keracunan makanan pada umumnya adalah munculnya gejala neurologis.

Baca juga  Cara Tetap Olahraga Di Luar Ruangan Untuk Pemilik Alergi Musiman

Menurut CDC, gejalanya dapat berupa penglihatan ganda atau buram, kelopak mata turun, sulit menelan, bicara pelo, kelemahan otot, hingga kesulitan menggerakkan mata. Pada kondisi yang semakin parah, toksin dapat menyebabkan kelumpuhan otot yang digunakan untuk bernapas sehingga berpotensi menyebabkan gagal napas.

Menariknya, gejala pencernaan seperti mual, muntah, sakit perut, dan diare juga dapat muncul pada foodborne botulism. Karena itu, gejala awalnya bisa saja terlihat seperti keracunan makanan biasa sebelum berkembang menjadi gangguan saraf.

Hasil Jurnal Menunjukkan Risiko Gangguan Pernapasan

Sebuah systematic review yang diterbitkan dalam Clinical Infectious Diseases meninjau 402 pasien botulisme dari 233 publikasi yang diterbitkan antara 1932 hingga 2015. Sebanyak 346 pasien atau sekitar 86 persen mengalami foodborne botulism. Penelitian tersebut menemukan bahwa 42 persen pasien mengalami sesak napas, gangguan pernapasan, atau gagal napas saat dirawat di rumah sakit, sementara sebagian pasien mengalami gangguan pernapasan tanpa sebelumnya mengalami kelemahan pada anggota gerak.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa efek toksin terhadap sistem saraf dan otot dapat berkembang serius dalam waktu relatif cepat. Karena itu, gejala neurologis setelah mengonsumsi makanan tertentu tidak sebaiknya dianggap sebagai keluhan biasa.

Listeria Juga Bisa Menyerang Sistem Saraf

Selain botulisme, bakteri Listeria monocytogenes yang dapat mengontaminasi makanan juga berpotensi menyebabkan masalah serius. Pada sebagian orang, infeksi dapat berkembang menjadi invasive listeriosis, yaitu ketika bakteri menyebar melewati saluran pencernaan ke bagian tubuh lainnya.

Baca juga  Hati-hati! 10 Tanda Penyakit Jantung, Jangan Diabaikan

Jika infeksi melibatkan sistem saraf, gejalanya dapat berupa sakit kepala, leher kaku, kebingungan, kehilangan keseimbangan, hingga kejang. Risiko mengalami penyakit serius lebih tinggi pada kelompok tertentu, termasuk ibu hamil, bayi baru lahir, orang berusia 65 tahun ke atas, dan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Jangan Abaikan Gejala yang Berbeda dari Keracunan Biasa

Pada sebagian besar kasus, keracunan makanan akan menyebabkan gangguan pada sistem pencernaan dan dapat membaik dengan perawatan yang sesuai. Namun, kemunculan gejala neurologis perlu mendapat perhatian lebih.

Terutama jika setelah mengonsumsi makanan seseorang mengalami penglihatan ganda, kelopak mata turun, sulit menelan, bicara pelo, kelemahan otot, sulit bernapas, kebingungan, kehilangan keseimbangan, atau kejang.

Pada dugaan botulisme, penanganan medis perlu dilakukan secepat mungkin. CDC menyebutkan bahwa botulisme merupakan kondisi darurat medis dan pemberian antitoksin lebih awal dapat mencegah toksin menyebabkan kerusakan lebih lanjut. Pada kasus berat, pasien bahkan dapat membutuhkan ventilator jika otot pernapasan mengalami kelumpuhan.

Jadi, keracunan makanan tidak selalu hanya soal perut yang bermasalah. Jenis toksin atau infeksi tertentu memang dapat memengaruhi sistem saraf dan menimbulkan komplikasi serius. Mengenali perubahan gejala sejak awal menjadi penting agar kondisi tersebut bisa segera mendapatkan penanganan medis.

Translate »