Mengenal Underconsumption Core, Tren yang Mengajarkan Cara Belanja Lebih Cerdas

Tren underconsumption core mengajak banyak orang untuk lebih bijak berbelanja, menggunakan apa yang sudah dimiliki, dan menemukan kenyamanan tanpa harus terus membeli barang baru.

Pernah tidak, Scarflovers, merasa lemari sudah penuh tetapi tetap bingung mau pakai apa? Atau rak skincare dipenuhi berbagai produk yang ternyata belum habis digunakan? Di sisi lain, harga kebutuhan sehari-hari terus naik, mulai dari bahan makanan, transportasi, hingga berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya.

Kondisi inilah yang membuat banyak orang mulai mengubah cara pandang mereka terhadap belanja dan gaya hidup. Jika dulu membeli barang baru sering dianggap sebagai bentuk self-reward, kini semakin banyak yang memilih untuk lebih selektif sebelum mengeluarkan uang. Dari sinilah tren underconsumption core mulai ramai dibicarakan di media sosial.

Berbeda dengan tren haul belanja atau berburu barang viral, underconsumption core justru mengajak seseorang untuk memaksimalkan apa yang sudah dimiliki sebelum membeli yang baru. Sederhananya, menggunakan produk sampai habis, memanfaatkan pakaian yang masih layak pakai, atau menunda pembelian yang sebenarnya belum terlalu dibutuhkan.

Meski terdengar sederhana, ternyata banyak orang merasa lebih nyaman menjalani gaya hidup seperti ini.

Image: Scarf Media

Tidak Lagi Terobsesi Mengikuti Semua Tren

Beberapa tahun lalu, media sosial dipenuhi berbagai tren yang berganti begitu cepat. Hari ini warna tertentu sedang populer, minggu depan muncul lagi tren baru yang membuat banyak orang tergoda untuk ikut membeli.

Namun belakangan, semakin banyak perempuan yang mulai menyadari bahwa tidak semua tren harus diikuti.

Image: Pinterest

Dalam dunia fashion misalnya, konsep capsule wardrobe kembali diminati. Banyak orang memilih memiliki koleksi pakaian yang lebih sedikit tetapi mudah dipadupadankan untuk berbagai kesempatan.

Kemeja putih, blazer bernuansa netral, rok hitam, celana wide leg, hingga hijab warna-warna basic kembali menjadi andalan. Bukan karena membosankan, tetapi karena item seperti ini lebih fleksibel dan tetap terlihat stylish meski digunakan berulang kali.

Baca juga  Marina Ajak Gen Z dan Perempuan Muda Indonesia Menjadi Agen Perubahan

Menariknya, tren ini justru mendorong kreativitas dalam berpakaian. Alih-alih terus membeli, banyak perempuan mulai mengeksplorasi cara baru memadukan koleksi lama agar terlihat berbeda.

Dunia Beauty Juga Mulai Berubah

Jika dulu banyak orang merasa perlu mencoba setiap skincare yang viral di TikTok, kini tren mulai bergeser ke arah yang lebih sederhana. Banyak konsumen memilih fokus pada produk yang benar-benar cocok dengan kebutuhan kulit mereka dibanding terus berganti-ganti produk.

Tidak sedikit pula yang menerapkan aturan sederhana: habiskan satu produk terlebih dahulu sebelum membeli yang baru.

Image: Scarf Media

Selain membantu menghemat pengeluaran, kebiasaan ini juga membuat seseorang lebih memahami apa yang benar-benar dibutuhkan kulitnya.

Karena pada akhirnya, memiliki sepuluh serum sekaligus belum tentu lebih efektif dibanding menggunakan beberapa produk yang memang sesuai dengan kondisi kulit.

Rumah yang Nyaman Tidak Harus Selalu Baru

Underconsumption core juga mulai memengaruhi cara banyak keluarga mengelola rumah. Jika sebelumnya dekorasi rumah identik dengan membeli perabot atau aksesori terbaru, kini banyak orang memilih menata ulang barang yang sudah ada.

Mulai dari memindahkan posisi furnitur, memperbarui dekorasi sederhana, hingga memanfaatkan kembali barang lama menjadi cara yang cukup populer untuk menciptakan suasana baru tanpa harus mengeluarkan banyak biaya.

Di tengah kondisi ekonomi saat ini, pendekatan seperti ini terasa lebih realistis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Mengapa Gen Z Menyukai Tren Ini?

Menariknya, tren underconsumption core justru banyak digaungkan oleh Gen Z. Meski tumbuh di era media sosial yang serba cepat, banyak generasi muda mulai merasa lelah dengan tekanan untuk selalu mengikuti tren terbaru. Mereka mulai menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari barang baru.

Baca juga  Masjid Istiqlal Raih Predikat sebagai Green Mosque Pertama di Dunia

Sebaliknya, memiliki kondisi keuangan yang lebih sehat, tabungan yang cukup, dan pengeluaran yang lebih terkontrol justru memberikan rasa tenang yang lebih bertahan lama.

Image: Pinterest

Karena itu, tren ini sering berjalan beriringan dengan berbagai istilah lain seperti no buy challengesoft saving, hingga loud budgeting yang sama-sama mendorong kebiasaan finansial yang lebih bijak.

Ketika Rasa Cukup Menjadi Kemewahan Baru

Menurut pengamat tren konsumen, fenomena underconsumption core sebenarnya bukan tentang berhenti menikmati fashion, beauty, atau gaya hidup yang menyenangkan. Sebaliknya, tren ini mendorong masyarakat untuk lebih sadar dalam menentukan apa yang benar-benar dibutuhkan dan apa yang hanya dibeli karena dorongan sesaat.

Di tengah harga yang terus meningkat dan kondisi ekonomi yang masih penuh tantangan, definisi kemewahan tampaknya mulai berubah.

Jika dulu kemewahan identik dengan memiliki banyak barang, kini semakin banyak orang menganggap ketenangan finansial, kebebasan dari belanja impulsif, dan kemampuan menikmati apa yang sudah dimiliki sebagai kemewahan yang sesungguhnya.

Bagi Scarflovers, mungkin inilah alasan mengapa underconsumption core terasa begitu relevan saat ini. Sebab pada akhirnya, tren ini bukan mengajarkan kita untuk memiliki lebih sedikit, melainkan untuk lebih menghargai apa yang sudah ada dan merasa cukup tanpa harus selalu mengejar yang baru.

Translate »