Mengenal Sensory Food Aversion pada Bayi, Lebih dari Sekadar Susah Makan

Kondisi sensory yang membuat si kecil lebih sensitif terhadap rasa, tekstur, dan aroma makanan

Ketika anak susah makan, banyak orang tua langsung menyimpulkan bahwa si kecil adalah picky eater. Padahal, tidak selalu demikian. Dalam beberapa kasus, apa yang terlihat sebagai kebiasaan pilih-pilih makanan bisa jadi berkaitan dengan kondisi sensorik yang membuat anak merasakan makanan secara berbeda.

Bisa jadi, rasa, tekstur, suhu, hingga aroma makanan terasa jauh lebih kuat bagi mereka. Inilah yang kemudian dikenal sebagai Sensory Food Aversion (SFA). Untuk itu, penting bagi Scarflovers memahami apakah si kecil hanya sedang fase pilih-pilih, atau memang mengalami kondisi tertentu.

Apa Itu Sensory Food Aversion?

Sensory Food Aversion adalah kondisi ketika anak menunjukkan reaksi berlebihan terhadap jenis makanan tertentu, baik dari segi rasa, tekstur, suhu, maupun aroma.

Melansir Napa Center, sistem sensorik pada bayi bekerja dengan mengirimkan informasi ke otak melalui indera seperti penglihatan, penciuman, sentuhan, dan rasa. Kemudian, otak akan memberikan respons melalui sistem motorik, seperti gerakan otot.

Misalnya, saat makanan terasa terlalu panas, teksturnya terlalu lembut, atau aromanya tidak nyaman, otak akan memberi sinyal penolakan. Respons ini bisa muncul dalam bentuk melepeh makanan, tersedak, atau bahkan memuntahkannya. Ketika sistem sensorik dan motorik ini tidak seimbang, masalah makan pun bisa muncul.

Baca juga  Sebelum Terlambat, Kenali Dulu Pengobatan Migrain pada Anak

Picky Eater atau SFA, Apa Bedanya?

Sekilas memang mirip, namun ada perbedaan yang cukup jelas.

Anak yang sekadar picky eater biasanya masih memiliki variasi makanan yang cukup banyak—sekitar lebih dari 30 jenis makanan. Sementara itu, anak dengan SFA cenderung memiliki pilihan yang sangat terbatas, bahkan kurang dari 20 jenis makanan.

Tanda Sensory Food Aversion pada Anak

Melansir Baby Sparks, anak dengan masalah sensorik bisa menjadi terlalu sensitif atau justru kurang sensitif terhadap makanan.

Beberapa tanda yang bisa dikenali antara lain:

  • Menolak makanan tertentu secara konsisten
  • Rewel saat waktu makan
  • Hanya mau makanan yang itu-itu saja
  • Enggan mencoba makanan baru

Dalam beberapa kasus, tekstur yang sedikit berbeda saja bisa terasa sangat mengganggu bagi anak. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi pola makan anak, tetapi juga berdampak pada keseharian keluarga.

Baca juga  Bahaya Penggunaan Baby Walker Pada Anak

Dari sisi kesehatan, asupan makanan yang terbatas bisa meningkatkan risiko kekurangan nutrisi penting seperti protein, zat besi, vitamin, dan mineral. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi tumbuh kembang anak.

Di sisi lain, orang tua juga bisa merasa stres dan khawatir. Menghadapi anak yang sulit makan seringkali membutuhkan kesabaran ekstra, sekaligus kreativitas dalam menyajikan makanan yang bisa diterima anak.

Menghadapi anak dengan kecenderungan SFA memang tidak mudah, namun tetap bisa diupayakan secara perlahan.

Scarflovers bisa mulai dengan menciptakan pengalaman makan yang positif di rumah. Biasakan makan bersama keluarga setidaknya sekali sehari, dengan suasana yang nyaman dan tanpa tekanan.

Sajikan makanan yang bervariasi secara bertahap, dan jadilah contoh dengan menunjukkan kebiasaan makan yang sehat. Semakin sering anak terpapar berbagai jenis makanan, peluang mereka untuk menerima makanan baru juga akan meningkat.

Proses ini memang membutuhkan waktu dan konsistensi. Namun dengan pendekatan yang sabar dan penuh pengertian, perlahan anak bisa belajar menikmati makanan dengan lebih baik.

Translate »