Masalah Sampah Jakarta Butuh Kesadaran Penuh dari Warga Sekitar

Kunci atasi krisis sampah di kota padat penduduk

Masalah sampah di Jakarta kerap dibicarakan dari sisi sistem, teknologi, hingga kapasitas tempat pengolahan. Mulai dari keterbatasan lahan, armada pengangkut, hingga teknologi daur ulang, semua menjadi sorotan utama. Namun di balik persoalan teknis tersebut, ada faktor mendasar yang sering luput dari perhatian, yakni kesadaran warga. Tanpa perubahan perilaku dan pola pikir masyarakat, sebaik apa pun sistem pengelolaan sampah akan sulit berjalan optimal.

Jakarta sebagai kota metropolitan menghasilkan ribuan ton sampah setiap hari. Sampah rumah tangga masih mendominasi, dengan tingkat pemilahan yang rendah sejak dari sumbernya. Banyak warga masih memandang sampah sebagai urusan pemerintah semata, bukan tanggung jawab bersama. Akibatnya, upaya pengurangan sampah dari hulu kerap tersendat karena tidak didukung kesadaran kolektif.

Pengamat lingkungan Febrian Adam Samir mengatakan bahwa, “Masih banyak yang menganggap bahwa sampah bukan bagian dari tanggung jawab kita sebagai masyarakat. Pikiran masyarakat Indonesia kalau sudah bayar retribusi maka bukan tanggung jawab kita lagi,” jelasnya dikutip dari laman resmi NU Online Jakarta, Selasa (20/1/2025).

Ia menilai bahwa persoalan ini tidak bisa dilepaskan dari lemahnya pendidikan dan kesadaran sejak dini. Ia menyebut, merujuk pada sejumlah temuan World Bank, kegagalan pengelolaan sampah di negara berkembang, termasuk Indonesia (Jakarta), lebih banyak dipengaruhi oleh lemahnya pendidikan dan kesadaran masyarakat.

Baca juga  Gaspol : Ojek Online Terbaru Yang Memberikan Banyak Keuntungan Kepada Driver

Pola pikir tersebut memperlihatkan bahwa persoalan sampah belum dipahami sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari yang berdampak langsung pada kualitas hidup. Banyak warga belum mengaitkan perilaku membuang sampah sembarangan atau tidak memilah sampah dengan berbagai persoalan yang mereka hadapi, mulai dari banjir, pencemaran lingkungan, hingga ancaman penyakit.

Febrian juga menjelaskan bahwa dampak sampah sering kali tidak dirasakan secara instan. Akibatnya, masyarakat kerap gagal melihat hubungan sebab-akibat antara sampah yang mereka hasilkan dengan masalah lingkungan yang muncul kemudian hari. Di wilayah perkotaan seperti Jakarta, tekanan ekonomi juga menjadi faktor penting. Bagi kelompok masyarakat rentan, isu sampah sering kali berada di urutan belakang setelah kebutuhan dasar seperti pangan, tempat tinggal, dan pekerjaan.

1. Kesadaran Warga Masih Menjadi Akar Masalah

Masalah sampah di Jakarta tidak hanya berkaitan dengan keterbatasan sistem atau infrastruktur, tetapi juga dengan rendahnya kesadaran masyarakat. Banyak warga masih memandang sampah sebagai urusan pemerintah semata, sehingga tidak merasa perlu memilah atau mengurangi sampah sejak dari rumah. Pola pikir bahwa kewajiban selesai setelah membayar retribusi membuat tanggung jawab personal terhadap sampah semakin kabur, padahal pengelolaan sampah yang efektif justru dimulai dari perilaku individu.

Baca juga  Revlon Meluncurkan Revlon PhotoReady Candid™ Menghasilkan Tampilan Wajah Flawless Natural Finish

2. Dampak Sampah Tidak Dipahami Secara Langsung

Rendahnya kesadaran juga dipengaruhi oleh sifat dampak sampah yang tidak instan. Banyak masyarakat tidak mengaitkan sampah yang mereka hasilkan dengan banjir, pencemaran lingkungan, atau risiko kesehatan yang muncul kemudian hari. Selain itu, tekanan ekonomi di wilayah perkotaan membuat isu sampah sering kali bukan menjadi prioritas, terutama bagi kelompok rentan yang lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar sehari-hari.

3. Pendidikan dan Sistem Sosial Perlu Diperkuat

Persoalan kesadaran sampah tidak bisa sepenuhnya dibebankan pada individu. Lemahnya pendidikan lingkungan sejak dini, minimnya pembiasaan di ruang publik, serta kebijakan yang belum konsisten turut membentuk cara pandang masyarakat terhadap sampah. Pengelolaan sampah perlu diposisikan sebagai nilai hidup dan tanggung jawab bersama, agar warga tidak hanya patuh pada aturan, tetapi juga memahami pentingnya peran mereka dalam menjaga lingkungan kota secara berkelanjutan.

Tanpa perubahan cara pandang, sampah akan terus diposisikan sebagai masalah yang “diserahkan” ke luar rumah. Padahal, keberhasilan pengelolaan sampah Jakarta sangat ditentukan oleh apa yang terjadi di tingkat paling dasar: rumah tangga dan individu. Kesadaran warga bukan pelengkap sistem, melainkan fondasi utama agar pengelolaan sampah dapat berjalan berkelanjutan dan berdampak nyata bagi kota.

Translate »