Kajian penuh makna persembahan Klamby yang digelar pada 23 April 2026 di Menara 165, menghadirkan Ustaz Muhammad Assad bersama publik figur Aldi Taher. Dalam suasana yang hangat dan reflektif, para peserta diajak menyelami satu tema bertajuk Makna dalam Langkah membahas “Saat Hati Belajar Melepaskan dan Ikhlas” yang dekat dengan kehidupan banyak orang.

Ustaz Muhammad Assad dalam kajiannya menyampaikan bahwa ikhlas bukanlah sesuatu yang mudah untuk dijalankan. Ia bukan sekadar ucapan di bibir, melainkan proses panjang dalam hati yang sering kali diiringi rasa sakit, kecewa, hingga kehilangan. Namun justru di situlah letak nilai ibadahnya ketika seseorang tetap memilih untuk berserah dan percaya pada ketetapan Allah di tengah keadaan yang tidak mudah.

Dalam salah satu penggalan pesannya, Ustaz Muhammad Assad menegaskan bahwa “ikhlas itu bukan tentang tidak merasakan sakit, tapi tentang tetap percaya bahwa apa yang Allah pilihkan selalu lebih baik dari apa yang kita inginkan.” Kalimat ini menjadi pengingat kuat bahwa luka dan kehilangan adalah bagian dari proses, namun kepercayaan kepada Allah adalah kunci untuk melewatinya dengan hati yang lebih lapang.
Salah satu amalan yang dibagikan dalam kajian ini adalah membaca doa yang terdapat dalam QS Al-Qasas ayat 24. Doa ini merupakan doa Nabi Musa saat berada dalam kondisi lelah dan penuh harap: memohon kebaikan dari Allah dalam setiap keadaan. Pesan ini menjadi pengingat bahwa dalam fase hidup tersulit sekalipun, seorang hamba tetap bisa mengetuk pintu langit dengan penuh harap dan kerendahan hati.
Tak hanya itu, jamaah juga diajak untuk membiasakan sholat tahajud sebagai salah satu cara mendekatkan diri kepada Allah. Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa tahajud bukan hanya tentang meminta, tetapi juga membangun hubungan yang lebih dalam dengan Sang Pencipta. Dengan hati yang terjaga di sepertiga malam, seseorang diyakini lebih kuat secara batin dan lebih terlindungi dari keburukan, termasuk dari perilaku jahat manusia terhadap dirinya.
Sementara itu, kehadiran Aldi Taher turut memberikan warna tersendiri dalam kajian ini. Ia berbagi pengalaman pribadi tentang proses belajar ikhlas dalam menghadapi berbagai ujian hidup. Kisah yang dibagikan terasa dekat dan nyata, memperkuat pesan bahwa setiap orang memiliki perjuangan masing-masing dalam memahami arti keikhlasan.
Ia menyampaikan bahwa makna hidup sesungguhnya adalah tetap beribadah dan mengingat Allah, bahkan ketika dihadapkan pada ujian yang paling berat sekalipun. Ia pun membagikan penggalan reflektifnya, “Hidup ini bukan tentang seberapa berat ujian yang kita hadapi, tapi seberapa dekat kita tetap dengan Allah di tengah ujian itu. Salah satu ikhtiar saya adalah terus membaca Al-Qur’an, karena di situlah hati dikuatkan dan diarahkan.” Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa kedekatan dengan Allah adalah sumber ketenangan dan kekuatan dalam menghadapi setiap fase kehidupan.
Melalui kajian ini, peserta diingatkan bahwa ikhlas memang terasa berat, tetapi tidak pernah sia-sia. Di balik setiap usaha untuk melepaskan dan berserah, ada ganjaran yang Allah janjikan bukan hanya ketenangan hati di dunia, tetapi juga balasan yang lebih besar di akhirat, yaitu surga.
Pada akhirnya, belajar ikhlas adalah perjalanan seumur hidup. Ia tidak selalu mudah, namun selalu bermakna. Dan mungkin, dari setiap luka yang berhasil dilepaskan dengan ikhlas, di situlah langkah kita semakin dekat menuju ridha-Nya.








