Aktivitas gunung api kembali menjadi perhatian di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, sejumlah gunung seperti Krakatau, Semeru, Merapi, Ibu, hingga Lewotobi terus menjadi bagian dari pemantauan aktivitas vulkanik. Fenomena serupa juga terjadi di berbagai negara, mulai dari Etna di Italia, Shiveluch di Rusia, hingga Fuego di Guatemala.
Ketika aktivitas vulkanik terjadi di banyak wilayah dalam waktu yang berdekatan, perhatian publik pun tertuju pada satu pertanyaan besar. Apakah rangkaian peristiwa alam ini memiliki pesan yang perlu direnungkan manusia?
Pertanyaan tersebut membawa kita pada cara Al-Quran memandang hubungan antara manusia dan lingkungan.

Al-Quran telah mengingatkan manusia mengenai dampak dari perbuatannya melalui QS Ar-Rum ayat 41:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali.”
Ayat tersebut menarik untuk direnungkan, terutama ketika berbagai persoalan lingkungan semakin sering menjadi perhatian. Namun, ayat ini tidak serta-merta dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa setiap bencana alam merupakan akibat langsung dari tindakan manusia.
Yang menjadi sorotan justru adalah bagaimana manusia memperlakukan bumi dan bagaimana perbuatannya dapat membawa dampak terhadap kehidupan.
Kerusakan lingkungan memang bukan sesuatu yang muncul dalam satu waktu. Deforestasi, kebakaran hutan, pencemaran udara, sampah plastik, hingga eksploitasi sumber daya alam merupakan persoalan yang berlangsung secara bertahap. Dampaknya pun dapat dirasakan oleh manusia maupun ekosistem dalam jangka panjang.
Kebakaran hutan di Kalimantan, misalnya, tidak hanya menyisakan lahan yang rusak. Asap dapat mengganggu kualitas udara dan aktivitas masyarakat di wilayah sekitar, bahkan berdampak lintas batas ketika kondisi tertentu membawa polusi udara ke negara tetangga.

Di sisi lain, aktivitas gunung api merupakan fenomena geologi yang memiliki proses alamiah. Manusia tidak dapat menghentikan letusan gunung atau mengendalikan seluruh aktivitas bumi. Yang dapat dilakukan adalah memahami tanda-tandanya, meningkatkan kesiapsiagaan, serta menjaga lingkungan agar masyarakat memiliki ruang hidup yang lebih aman dan berkelanjutan.
Dalam konteks inilah pesan QS Ar-Rum ayat 41 dapat menjadi bahan refleksi.
Bagian akhir ayat tersebut menyebutkan tujuan agar manusia “kembali”. Maknanya dapat direnungkan sebagai ajakan untuk mengevaluasi kembali tindakan dan cara hidup yang dijalankan.
Bencana tidak selalu harus dilihat hanya dari pertanyaan mengenai siapa yang salah atau siapa yang sedang dihukum. Ada ruang yang lebih luas untuk mengambil pelajaran dari setiap peristiwa.

Al-Quran juga mengingatkan hal tersebut melalui QS Yusuf ayat 105:
وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ
“Dan berapa banyak tanda-tanda kebesaran Allah di langit dan di bumi yang mereka lalui, namun mereka berpaling darinya.”
Ayat ini dapat menjadi pengingat bahwa berbagai fenomena yang terjadi di sekitar manusia seharusnya tidak hanya menjadi tontonan sesaat. Ada kesempatan untuk berhenti, memperhatikan, dan mengambil hikmah darinya.
Begitu pula dengan persoalan lingkungan. Menyaksikan hutan terbakar, udara tercemar, atau ekosistem yang semakin tertekan seharusnya mendorong manusia untuk melihat kembali hubungan mereka dengan alam.
Dalam Islam, manusia memiliki amanah sebagai khalifah di bumi. Amanah tersebut bukan sekadar memanfaatkan apa yang tersedia, tetapi juga menjaga keseimbangan dan menghindari tindakan yang membawa kerusakan.

Karena itu, fenomena alam tidak harus selalu dihadapi dengan ketakutan atau spekulasi. Ada hal yang lebih penting untuk dilakukan, yaitu meningkatkan kesiapsiagaan, menjaga lingkungan, dan menjadikan setiap peristiwa sebagai kesempatan untuk melakukan introspeksi.
Gunung api akan tetap menjadi bagian dari dinamika bumi. Hutan memiliki siklusnya sendiri. Alam pun memiliki proses yang tidak selalu dapat dikendalikan manusia. Namun, cara manusia memperlakukan bumi tetap berada dalam ruang yang dapat dipilih.
Mungkin pesan yang bisa direnungkan bukan sekadar mengapa bencana terjadi, melainkan apa yang bisa manusia pelajari setelah melihatnya. Tentang bagaimana kita menjaga lingkungan. Tentang bagaimana kita menggunakan sumber daya. Dan tentang bagaimana kita menjalankan tanggung jawab sebagai bagian dari bumi.
Sebab pada akhirnya, menjaga bumi bukan hanya persoalan lingkungan. Bagi manusia yang beriman, ia juga dapat menjadi bagian dari cara menjalankan amanah kepada Sang Pencipta.








