Amalan Rebo Wekasan dalam Pandangan Agama Islam

Amalan Rebo Wekasan dalam Pandangan Agama Islam

Hari ini, 12 Agustus 2026, merupakan Rabu terakhir di bulan Safar 1448 H. Dalam tradisi masyarakat Indonesia, momen tersebut dikenal dengan berbagai sebutan, mulai dari Rebo Wekasan, Rabu Wekasan, hingga Rabu Pungkasan.

Sebagian masyarakat masih mengaitkan hari tersebut dengan datangnya kesialan atau berbagai musibah. Kepercayaan semacam ini sebenarnya bukan hal baru. Anggapan mengenai bulan Safar sebagai waktu yang membawa kesialan telah dikenal sejak masa Arab jahiliah dan kemudian ikut berkembang dalam sejumlah tradisi masyarakat Muslim, termasuk di Nusantara.

Namun, dalam ajaran Islam, keyakinan bahwa bulan Safar atau hari tertentu membawa kesialan tidak dibenarkan. Rasulullah saw bahkan menegaskan hal tersebut dalam hadis riwayat Imam Bukhari:

لا عَدْوَى ولا طِيَرَةَ ولا هَامةَ ولا صَفَرَ وفِرَّ من المَجْذُومِ كما تَفِرُّ من الأَسَد

Artinya:

Tidak ada penyakit menular, tidak ada ramalan buruk, tidak ada kesialan karena burung hammah, tidak ada sial bulan Safar, dan larilah kamu dari penyakit kusta seperti kamu lari dari singa. (HR Bukhari).

Bagaimana Tradisi Rebo Wekasan dalam Pandangan Islam?

Kepercayaan mengenai Rebo Wekasan sebagai waktu yang penuh bala kemudian kembali berkembang setelah Rasulullah saw wafat. Salah satu sumber yang kerap menjadi rujukan adalah kitab Kanzun Najah Was-Surur fi Fadhail Al-Azminah wash-Shuhur karya Syekh Abdul Hamid Quds.

Dalam kitab tersebut dijelaskan mengenai pandangan sebagian wali Allah yang memiliki pengetahuan spiritual atau kasyaf, bahwa setiap tahun terdapat sejumlah bala yang diturunkan ke bumi dan dikaitkan dengan Rabu terakhir di bulan Safar.

Pandangan tersebut kemudian berkembang menjadi tradisi di tengah masyarakat. Pada malam maupun hari Rebo Wekasan, sebagian masyarakat melakukan berbagai amalan, seperti salat, membaca Yasin, berzikir, berdoa, dan ibadah lainnya.

Meski demikian, penting bagi Scarflovers untuk memahami bahwa Islam tidak mengajarkan adanya hari atau bulan yang secara mutlak membawa kesialan. Segala sesuatu yang terjadi tetap berada dalam kehendak Allah Swt.

Artinya, ibadah dilakukan bukan karena menganggap Rabu atau bulan Safar sebagai waktu yang membawa kesialan, melainkan sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah. Misalnya, seseorang memperbanyak istigfar karena ingin bertobat dan memperbaiki diri. Begitu pula ketika melaksanakan salat, dapat diniatkan sebagai salat hajat.

Baca juga  Merajut Spiritualitas Bersama Ustadz Irfan Rizki Haas di Makna Fest 2025

3 Amalan yang Bisa Dilakukan Saat Rebo Wekasan

Jika ingin mengisi Rebo Wekasan dengan kegiatan yang bernilai ibadah, terdapat sejumlah amalan yang dapat dilakukan. Amalan-amalan ini pada dasarnya merupakan ibadah yang dianjurkan dalam Islam dan tidak hanya terbatas pada Rebo Wekasan.

1. Memperbanyak Doa

Berdoa dapat menjadi salah satu bentuk ikhtiar untuk memohon perlindungan dan pertolongan Allah Swt. Scarflovers dapat menggunakan momen Rebo Wekasan untuk lebih banyak berdoa, baik untuk diri sendiri, keluarga, maupun orang-orang terdekat.

Salah satu doa yang disebutkan dalam tradisi Rebo Wekasan adalah:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقُوَى وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَالِ يَا عَزِيْزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيْعُ خَلْقِكَ اِكْفِنِيْ مِنْ جَمِيْعِ خَلْقِكَ يَا مُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ يَا مَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا أَنْتَ اِرْحَمْنِيْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اللهم بِسِرِّ الْحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِيْهِ وَأُمِّهِ وَبَنِيْهِ اِكْفِنِيْ شَرَّ هَذَا الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ يَا كَافِيَ الْمُهِمَّاتِ يَا دَافِعَ الْبَلِيَّاتِ فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَصَلىَّ اللهُ تَعَالىَ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ الِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Artinya:

Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang. Semoga Allah memberikan shalawat kepada Sayyidina Muhammad dan keluarganya serta sahabat-sahabatnya.

Ya Allah, wahai Yang Maha Kuat lagi Maha Mungkin, wahai Yang Maha Perkasa, segala makhluk tunduk kepada kemuliaan-Mu. Cukupkanlah aku dari segala makhluk-Mu. Wahai Yang Maha Baik, Yang Maha Indah, Yang Maha Pemurah, Yang Maha Pemberi, Yang Maha Mulia, wahai Yang tiada Tuhan selain Engkau, berilah rahmat kepada ku dengan rahmat-Mu. Wahai Yang Maha Pemurah di antara yang pemurah.

Ya Allah, dengan rahasia Hasan, saudara kandungnya, kakeknya, ayahnya, ibunya, dan anak-anaknya, cukupkan aku dari kejahatan hari ini dan apa yang turun pada hari ini. Wahai Yang Maha Cukup untuk mengatasi semua urusan, wahai Yang Maha Menjauhkan bencana. Allah akan cukupkan kamu dari mereka, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Cukuplah Allah sebagai pelindung kami, dan Dia adalah Pelindung yang terbaik. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Semoga Allah memberikan selawat kepada Sayyidina Muhammad dan keluarganya serta sahabat-sahabatnya.

Baca juga  Hukum Telat Membayar Utang Puasa di Bulan Ramadhan

2. Memperbanyak Istigfar

Selain berdoa, memperbanyak istigfar juga dapat menjadi pilihan untuk mengisi Rebo Wekasan. Istigfar merupakan bentuk permohonan ampun kepada Allah Swt atas berbagai dosa dan kesalahan yang telah dilakukan, baik yang disengaja maupun tidak.

Anjuran untuk memohon ampun kepada Allah salah satunya terdapat dalam QS. Hud ayat 90:

وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَوَدُودٌ

Artinya:

Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Mencintai.

3. Membaca Al-Qur’an

Mengisi waktu dengan membaca Al-Qur’an juga dapat menjadi pilihan. Sebagai kitab suci sekaligus pedoman hidup umat Islam, membaca Al-Qur’an merupakan ibadah yang memiliki banyak keutamaan.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi disebutkan:

من قرأ حرفا من كتاب الله فله به حسنة والحسنة بعشر أمثالها لا أقول آلم حرف ولكن ألف حرف ولام حرف وميم حرف

Artinya:

Siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif laam mim itu satu huruf. Akan tetapi, alif satu huruf, laam satu huruf, dan mim satu huruf. (HR Tirmidzi).

Jadikan Rebo Wekasan sebagai Momentum Memperbanyak Kebaikan

Rebo Wekasan telah menjadi bagian dari tradisi yang masih dijalankan sebagian masyarakat Indonesia hingga saat ini. Namun, Scarflovers perlu memahami bahwa tidak ada hari atau bulan yang pada dasarnya membawa kesialan dalam Islam.

Jika ingin mengisi Rabu terakhir di bulan Safar dengan ibadah, doa, istigfar, dan membaca Al-Qur’an dapat menjadi pilihan yang baik. Yang terpenting adalah meluruskan niat, yaitu menjadikan amalan tersebut sebagai bentuk ketaatan dan upaya mendekatkan diri kepada Allah Swt, bukan karena meyakini bahwa Rebo Wekasan merupakan hari yang pasti mendatangkan malapetaka.

Dengan begitu, Rebo Wekasan dapat menjadi momentum untuk kembali mengingat Allah, memperbaiki diri, memperkuat iman, serta mensyukuri berbagai nikmat yang telah diberikan-Nya.

Translate »