Jepang Berencana Naikkan Biaya Visa pada 2026, Upaya Mengatasi Lonjakan Wisatawan

Upaya Atasi Over-Tourism dan Lonjakan Wisatawan

Jepang berencana menaikkan biaya penerbitan visa bagi wisatawan asing mulai tahun fiskal 2026 sebagai bagian dari upaya mengatasi over-tourism atau lonjakan jumlah wisatawan yang menyebabkan kepadatan di sejumlah destinasi populer. Kebijakan ini menjadi kenaikan biaya visa pertama sejak Kementerian Luar Negeri Jepang mulai mencatat data visa pada 1978.

Mengutip Business Today, pemerintah Jepang menilai penyesuaian biaya visa diperlukan karena tarif yang berlaku saat ini masih tergolong rendah dibandingkan dengan sejumlah negara maju. Tambahan pendapatan dari kenaikan biaya tersebut akan dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaan destinasi wisata, mengatasi dampak over-tourism, serta menjaga kelestarian lingkungan di kawasan wisata yang mengalami lonjakan kunjungan.

Mount Fuji, Japan
Image: David Edelstein/Unsplash

Biaya Visa Jepang Bakal Naik untuk Pertama Kalinya Sejak 1978

Saat ini, biaya visa sekali masuk (single-entry visa) ke Jepang dipatok sebesar 3.000 yen, sedangkan visa multiple-entry dikenakan biaya 6.000 yen.

Sebagai perbandingan, Amerika Serikat menetapkan biaya US$185 untuk visa bisnis maupun wisata, sementara Inggris mengenakan biaya £127 untuk visa kunjungan jangka pendek. Di kawasan Uni Eropa, biaya visa Schengen untuk kunjungan singkat saat ini mencapai €90 bagi warga negara non-Uni Eropa.

Baca juga  Kesalahan Umum yang Bisa Terjadi Saat Traveling

Meski pemerintah belum mengumumkan besaran tarif baru, penyesuaian biaya diperkirakan akan membuat tarif visa Jepang lebih mendekati standar yang diterapkan negara-negara maju lainnya.

Over-Tourism Jadi Alasan Utama Kenaikan Biaya Visa

Lonjakan jumlah wisatawan internasional menjadi salah satu alasan utama di balik rencana tersebut. Sepanjang 2024, Jepang mencatat rekor 36,87 juta wisatawan mancanegara, angka tertinggi sepanjang sejarah.

Di sisi lain, meningkatnya jumlah pengunjung juga memunculkan berbagai tantangan, mulai dari kepadatan di destinasi wisata populer, kemacetan, hingga meningkatnya tekanan terhadap lingkungan dan fasilitas publik. Melalui kenaikan biaya visa, pemerintah berharap dapat memperoleh tambahan dana untuk meningkatkan pengelolaan sektor pariwisata sekaligus menjaga kenyamanan wisatawan dan masyarakat lokal.

Pajak Keberangkatan dan Sistem JESTA Juga Akan Diterapkan

Tak hanya biaya visa, Jepang juga tengah meninjau international departure tax atau pajak keberangkatan internasional yang saat ini sebesar ¥1.000 per orang. Pemerintah mempertimbangkan penyesuaian tarif agar lebih sejalan dengan standar internasional, seperti yang diterapkan di beberapa negara Eropa.

Baca juga  Aktivitas Wajib Yang Harus Dilakukan Ketika Berlibur ke Osaka Jepang

Selain itu, Jepang berencana meluncurkan Japan Electronic System for Travel Authorisation (JESTA) pada 2028. Sistem ini akan berlaku bagi wisatawan dari negara-negara yang memperoleh fasilitas bebas visa, serupa dengan sistem ETIAS yang akan diterapkan Uni Eropa. Pengajuan otorisasi perjalanan melalui JESTA diperkirakan akan dikenakan biaya sekitar ¥6.000.

Apa Dampaknya bagi Wisatawan?

Rencana kenaikan biaya visa ini akan dimasukkan dalam paket kebijakan ekonomi pemerintah Jepang yang dijadwalkan diumumkan dalam waktu dekat dan mulai berlaku pada tahun fiskal yang dimulai April 2026.

Bagi wisatawan yang berencana berlibur ke Negeri Sakura, kebijakan ini berarti biaya perjalanan ke Jepang berpotensi meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Meski demikian, pemerintah berharap langkah tersebut dapat membantu menciptakan sektor pariwisata yang lebih berkelanjutan, mengurangi dampak over-tourism, serta menjaga kualitas pengalaman wisata bagi para pengunjung di masa mendatang.

Translate »