GERD Mendadak Jadi Perhatian Publik, Apa yang Perlu Diketahui Masyarakat?

Ramainya perbincangan di media sosial membuka kembali diskusi tentang GERD, penyakit yang kerap dianggap sepele namun memiliki gejala mirip kondisi darurat medis.

Belakangan ini, penyakit gastroesophageal reflux disease (GERD) kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial. Perhatian publik meningkat setelah kabar meninggalnya selebgram Lula Lahfah, yang diduga mengalami henti jantung dan diketahui memiliki riwayat GERD. Banyak netizen pun bertanya-tanya, apakah penyakit yang selama ini dianggap “sekadar asam lambung” bisa berujung fatal?

Fenomena ini menjadi pengingat penting bagi kita semua, termasuk Scarflovers, bahwa literasi kesehatan masyarakat masih perlu terus ditingkatkan. Salah satu hal yang sering luput disadari adalah kemiripan gejala GERD dengan serangan jantung, terutama nyeri dada dan rasa terbakar di area dada. Ketika gejala tersebut dianggap sepele atau salah ditafsirkan, risiko keterlambatan penanganan pun menjadi lebih besar.

Image: Freepik

Mengenal GERD dan Gejalanya

Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), bagian dari National Institutes of Health (NIH) Amerika Serikat, GERD merupakan kondisi kronis akibat naiknya asam lambung ke kerongkongan secara berulang. Gejala yang paling umum adalah mulas, rasa panas atau nyeri di tengah dada, tepat di belakang tulang dada, yang bisa menjalar hingga ke tenggorokan.

Selain itu, penderita juga dapat mengalami regurgitasi, yakni naiknya kembali isi lambung ke kerongkongan atau mulut, sehingga menimbulkan rasa asam atau pahit. Namun, penting untuk diketahui bahwa tidak semua penderita GERD merasakan mulas. Gejala lain yang sering muncul meliputi nyeri dada, mual, kesulitan menelan, nyeri saat menelan, batuk kronis, suara serak, hingga gangguan pernapasan.

Baca juga  Tips Agar Tetap Produktif Saat #DirumahAja

Scarflovers perlu lebih waspada jika gejala-gejala tersebut tidak kunjung membaik meski sudah mengonsumsi obat bebas. Segera periksakan diri ke dokter, terutama bila muncul tanda bahaya seperti nyeri dada hebat, muntah terus-menerus, hilang nafsu makan, kesulitan menelan, atau penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas. Tanda perdarahan saluran cerna, seperti muntah darah, muntah berwarna gelap seperti ampas kopi, atau tinja hitam pekat juga tidak boleh diabaikan.

Faktor Pencetus GERD

Ada berbagai faktor yang dapat memicu atau memperparah GERD. Di antaranya adalah kelebihan berat badan atau obesitas, kehamilan, kebiasaan merokok, serta paparan asap rokok. Selain itu, beberapa jenis obat juga diketahui dapat memperburuk gejala GERD, seperti obat penenang (benzodiazepin), obat tekanan darah tinggi dari golongan penghambat saluran kalsium, obat asma, obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), hingga antidepresan.

Image: Freepik

Cara Menangani GERD

Penanganan GERD umumnya dimulai dari perubahan gaya hidup. Bagi penderita obesitas, menurunkan berat badan dapat membantu mengurangi tekanan pada lambung. Disarankan pula meninggikan posisi kepala saat tidur sekitar 15–20 cm untuk mencegah asam lambung naik ke kerongkongan. Menghentikan kebiasaan merokok serta mengatur pola makan juga menjadi langkah penting.

Baca juga  Wapres Siapkan Empat Strategis RI Dalam Menguasai Pasar Halal Dunia

Obat-obatan GERD banyak tersedia secara bebas, seperti antasida untuk meredakan gejala ringan. Namun, Scarflovers sebaiknya tidak mengonsumsi obat ini secara rutin tanpa saran dokter, karena dapat menimbulkan efek samping seperti diare atau sembelit. Jika keluhan tidak membaik, dokter dapat meresepkan obat lain atau mempertimbangkan tindakan lanjutan.

Dalam kasus tertentu, pembedahan menjadi pilihan. Prosedur yang paling umum adalah fundoplikasi, yaitu operasi untuk memperkuat katup antara lambung dan kerongkongan agar refluks dapat dicegah. Bagi penderita GERD yang juga mengalami obesitas, operasi penurunan berat badan seperti bypass lambung dapat membantu mengurangi gejala sekaligus memperbaiki kualitas hidup.

Kasus yang menimpa Lula Lahfah menjadi pengingat bagi kita semua bahwa GERD bukan sekadar gangguan pencernaan biasa. Dengan pemahaman yang lebih baik dan respons yang tepat, risiko komplikasi serius dapat ditekan. Jadi, jangan ragu untuk lebih peduli pada sinyal tubuh, ya, Scarflovers.

Translate »