Setiap tahun, Isra Miraj diperingati sebagai salah satu peristiwa besar dalam sejarah Islam. Namun, sering kali maknanya berhenti pada kisah perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratul Muntaha. Padahal, di balik peristiwa luar biasa tersebut, Isra Miraj menyimpan pesan mendalam yang sangat relevan dengan kehidupan muslim di era modern—era yang serba cepat, penuh distraksi, dan kerap melelahkan secara mental maupun spiritual.
Isra Miraj terjadi di fase berat dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW. Saat itu, beliau baru saja kehilangan dua sosok penopang utama: Khadijah RA dan Abu Thalib. Tekanan, kesedihan, dan penolakan datang bertubi-tubi. Dalam konteks kekinian, fase ini terasa begitu dekat. Banyak orang hari ini hidup di tengah tekanan pekerjaan, tuntutan sosial, ketidakpastian ekonomi, hingga kelelahan mental yang sering tak terlihat. Isra Miraj mengajarkan bahwa bahkan dalam titik terendah sekalipun, selalu ada jalan penguatan dari Allah.
Salah satu pesan utama Isra Miraj adalah perintah salat. Bagi muslim kekinian, salat sering kali terasa seperti rutinitas yang terjepit di antara jadwal rapat, notifikasi ponsel, dan tenggat waktu. Padahal, salat justru hadir sebagai ruang jeda tempat manusia berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia. Di tengah budaya hustle dan glorifikasi kesibukan, salat mengajarkan keseimbangan: bahwa produktivitas tanpa koneksi spiritual hanya akan berujung pada kelelahan batin.
Isra Miraj juga mengingatkan tentang pentingnya koneksi vertikal di tengah dominasi koneksi horizontal. Dunia modern membuat manusia terhubung dengan siapa saja, kapan saja, namun sering kali kehilangan hubungan dengan Sang Pencipta. Perjalanan Nabi dari bumi ke langit seolah menjadi simbol bahwa manusia membutuhkan arah hidup yang lebih tinggi dari sekadar pencapaian duniawi. Karier, pencitraan sosial, dan validasi digital tidak akan pernah cukup tanpa fondasi iman yang kuat.
Selain itu, Isra Miraj mengajarkan bahwa iman bukan sesuatu yang statis. Perjalanan spiritual adalah proses naik dan turun, penuh ujian, dan membutuhkan kesabaran. Dalam dunia yang serba instan, pesan ini terasa relevan. Tidak semua hal harus sempurna hari ini. Konsistensi kecil dalam ibadah, niat baik, dan usaha menjaga nilai halal dalam gaya hidup sudah menjadi bagian dari perjalanan spiritual seorang muslim modern.
Pada akhirnya, Isra Miraj bukan hanya peristiwa yang dikenang setahun sekali, tetapi panduan hidup yang terus hidup. Ia mengajarkan ketenangan di tengah kekacauan, harapan di tengah kesulitan, serta keseimbangan antara dunia dan akhirat. Bagi muslim kekinian, memahami Isra Miraj berarti menjadikannya kompas penunjuk arah agar tetap waras, beriman, dan bermakna di tengah dunia yang terus bergerak cepat.









