Tabarruj di Media Sosial, Batasan Berhias di Era Digital

Di tengah maraknya konten fashion, beauty, dan lifestyle di media sosial, istilah tabarruj kembali ramai diperbincangkan. Bagi banyak perempuan muslim, khususnya para Scarflover, ini menjadi refleksi penting: sejauh mana kita mengekspresikan diri lewat penampilan tanpa melampaui batasan syariat?

Dalam kajian Fiqih, tabarruj merujuk pada perilaku berhias atau menampilkan kecantikan secara berlebihan di hadapan non-mahram. Istilah ini sering dikaitkan dengan larangan dalam Al-Qur’an untuk tidak bertingkah laku seperti perempuan di masa Jahiliyah yang menonjolkan perhiasan dan daya tarik secara terbuka.

Namun, bagaimana dengan konteks hari ini di mana media sosial menjadi “ruang publik baru” yang bahkan lebih luas dari dunia nyata?

Bagi perempuan modern, berhias dan tampil rapi bukan hanya soal estetika, tapi juga bentuk self-respect dan ekspresi diri. Tidak sedikit pula yang menjadikan fashion sebagai ladang rezeki, profesi, bahkan dakwah. Di sinilah pentingnya memahami bahwa Islam tidak melarang keindahan, tetapi mengatur bagaimana keindahan itu ditampilkan.

Baca juga  Inilah 4 Cara Allah Memberikan Rezeki kepada Manusia

Dalam konteks digital, tabarruj tidak selalu hitam-putih. Bukan sekadar soal memakai makeup atau outfit stylish, tapi lebih pada niat, cara penyajian, dan dampak yang ditimbulkan. Misalnya, apakah konten yang dibuat cenderung mengundang perhatian berlebihan? Apakah menonjolkan lekuk tubuh? Atau justru menginspirasi dengan cara yang tetap menjaga nilai kesopanan?

Untuk para Scarflover, ada beberapa batasan halus yang bisa jadi panduan tanpa harus menghilangkan gaya personal:

Pertama, pilih outfit yang tetap sesuai prinsip modest fashion tidak transparan, tidak ketat, dan tidak berlebihan dalam menarik perhatian. Edgy atau stylish boleh, selama tidak menggeser esensi menutup aurat.

Kedua, perhatikan gesture dan pose. Terkadang bukan pakaiannya yang bermasalah, tapi cara membawakan diri. Pose yang terlalu sensual atau dibuat untuk menarik male gaze bisa masuk dalam kategori yang perlu dihindari.

Baca juga  Begini Pandangan Islam Terhadap KDRT

Ketiga, kontrol intensi dalam berkonten. Apakah tujuan utama untuk berbagi inspirasi, atau sekadar validasi? Ini penting, karena dalam Islam, nilai amal sangat bergantung pada niatnya.

Keempat, bangun narasi yang sehat. Caption, cara bicara, hingga pesan yang disampaikan bisa mengarahkan audiens pada hal positif bukan sekadar visual, tapi juga value.

Menariknya, banyak influencer modest fashion saat ini mulai mengarah pada pendekatan yang lebih mindful. Mereka tetap tampil stylish, namun dengan tone yang lebih tenang, tidak berisik secara visual, dan tetap menjaga adab sebagai muslimah.

Pada akhirnya, membahas tabarruj di media sosial bukan untuk membatasi kreativitas, tapi justru untuk memberi arah. Bahwa menjadi stylish dan tetap syar’i bukan dua hal yang bertentangan. Karena bagi seorang scarflover, gaya bukan hanya tentang apa yang terlihat tapi juga tentang nilai yang dibawa.

Translate »