Sunnah menjaga lisan merupakan salah satu ajaran Islam yang sangat fundamental, namun sering kali terasa paling menantang untuk diamalkan, terutama di era media sosial. Jika pada masa Rasulullah menjaga lisan identik dengan kehati-hatian dalam berbicara secara langsung, hari ini maknanya meluas pada setiap kata yang ditulis, dibagikan, dikomentari, dan disebarluaskan di ruang digital. Media sosial menjadikan setiap orang memiliki “panggung”, sehingga risiko tergelincir dalam ucapan pun semakin besar.

Dalam ajaran Islam, lisan bukan sekadar alat komunikasi, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Rasulullah mencontohkan bahwa berbicara seharusnya membawa kebaikan, dan bila tidak, diam adalah pilihan yang lebih selamat. Prinsip ini sangat relevan di tengah budaya media sosial yang mendorong respons cepat, opini instan, dan komentar tanpa jeda. Banyak orang tergoda untuk ikut berkomentar demi eksistensi, tanpa mempertimbangkan dampak dari kata-kata yang dituliskan.
1. Berbicara atau Menulis dengan Tujuan Kebaikan
Sunnah Rasulullah mengajarkan agar setiap ucapan membawa manfaat. Dalam konteks media sosial, prinsip ini berarti hanya membagikan konten yang bernilai positif, informatif, atau menginspirasi. Jika sebuah unggahan tidak membawa kebaikan, menahan diri untuk tidak mempublikasikannya merupakan bentuk pengamalan sunnah menjaga lisan.
2. Menahan Diri dari Ujaran Emosional
Media sosial sering memicu respons spontan akibat perbedaan pendapat atau informasi yang provokatif. Sunnah menjaga lisan mengajarkan pengendalian emosi, tidak berbicara dalam keadaan marah, dan memberi jeda sebelum merespons. Sikap ini membantu mencegah lahirnya kata-kata kasar yang berpotensi melukai orang lain.
3. Menghindari Ghibah dan Fitnah dalam Bentuk Digital
Membicarakan keburukan orang lain tidak hanya terjadi dalam percakapan langsung, tetapi juga melalui unggahan dan komentar. Sunnah Rasulullah menekankan pentingnya menjaga kehormatan sesama manusia. Menghindari gosip, tuduhan tanpa dasar, serta konten yang merendahkan orang lain merupakan bagian penting dari menjaga lisan di ruang digital.
4. Memilih Kata yang Lembut dan Beradab
Rasulullah dikenal dengan kelembutan lisannya. Dalam media sosial, adab ini tercermin dari cara menyampaikan pendapat, memberi kritik, atau berdiskusi. Kata-kata yang santun dan penuh empati tidak hanya menjaga hubungan sosial, tetapi juga mencerminkan akhlak seorang muslim.
5. Menyaring Informasi Sebelum Membagikan
Salah satu bentuk menjaga lisan adalah tidak menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Media sosial memudahkan penyebaran kabar dengan cepat, namun sunnah mengajarkan kehati-hatian agar tidak menjadi bagian dari rantai penyebaran informasi yang menyesatkan.
6. Menggunakan Media Sosial sebagai Ladang Pahala
Menjaga lisan tidak berarti pasif. Sunnah Rasulullah juga mendorong umatnya untuk menyebarkan kebaikan. Unggahan yang mengajak pada nilai positif, memberi semangat, atau mengingatkan dengan cara yang baik dapat menjadi amal yang terus mengalir selama memberikan manfaat.
7. Memilih Diam dari Hal yang Tidak Bermanfaat
Tidak semua perdebatan perlu diikuti. Sunnah mengajarkan bahwa diam dari hal yang tidak membawa kebaikan sering kali lebih utama. Di media sosial, memilih untuk tidak terlibat dalam konflik yang tidak produktif adalah bentuk kedewasaan dan pengendalian diri.
Menjaga lisan di era media sosial menuntut kesadaran yang lebih besar, karena jejak digital dapat bertahan lama. Dengan mengamalkan sunnah Rasulullah, setiap muslim dapat menjadikan media sosial sebagai ruang yang lebih beradab, penuh empati, dan mencerminkan keindahan akhlak Islam.









