
Sebelum Terlambat, Kenali Dulu Pengobatan Migrain pada Anak
Dear parents, Anda harus waspada, sebab migrain pada anak bisa terjadi di usia 7-11 tahun. Migrain juga dapat menyerang usia remaja. Ketahui informasinya berikut ini, yuk!
Faktor Migrain
- Anak-anak dengan berat badan berlebih berisiko terkena serangan migrain
- Adanya faktor gen atau hubungan keluarga yang mempunyai riwayat sakit kepala
- Perubahan sementara pada zat kimia, jaringan saraf, otak, dan pembuluh darah
- Konsumsi makanan dan minuman tertentu seperti kafein, cokelat, keju, dan bumbu penyedap
- Stres dan kelelahan
Jenis Migrain
Migrain dapat terjadi dengan aura yaitu, adanya tanda-tanda yang mengawali sakit kepala migrain seperti penglihatan kabur secara tiba-tiba, gangguan pandangan mata terasa silau, kesulitan berbicara, dan mual atau muntah. Ada pula migrain tanpa aura, migrain ini terjadi tanpa gejala khusus.
Tanda-Tanda Migrain
Migrain pada setiap anak bisa berbeda-beda jangka waktunya. Begitu pula tanda-tanda migrain pada anak, di antaranya:
- Nyeri atau sakit di satu sisi kepala. Sakit kepala yang dirasakan cukup berat dan terasa seperti tertusuk-tusuk atau berdenyut.
- Mual atau muntah
- Sakit perut
- Vertigo atau pusing berputar
- Gangguan penglihatan seperti kabur atau silau
- Kesemutan atau mati rasa pada bagian tubuh tertentu
- Kebingungan
- Sulit berkonsentrasi
Pengobatan Migrain
Pengobatan tergantung pada tingkat keparahan gejala migrain yang dialami anak, di antaranya:
- Istirahat yang cukup
Anak disarankan untuk tidur di ruangan yang sejuk, gelap, dan sunyi.
- Mengonsumsi obat pereda nyeri
Jika gejala migrain pada anak sangat berat, maka anak perlu diberikan obat antinyeri sesuai konsultasi dari dokter.
- Menghindari stres
Orang tua harus aktif menenangkan dan menemani anak saat dilanda stres, agar dia dapat merasa rileks dan nyaman. Bila perlu, bawalah anak ke psikolog untuk mengatasi stres yang dialaminya.
Kendati demikian, migrain pada anak harus diperiksa ke dokter anak, apabila disertai demam tinggi, muntah, kejang, pingsan, dan koma, serta berlangsung lebih dari dua hari.
Sumber : Alodokter dan p2ptm.kemkes.go.id