Saat melangkah pertama kali ke dalam ruang sidang Gedung Parlemen Inggris (House of Commons), Apsana Begum langsung merasakan atmosfer yang berbeda. Di tengah ruangan yang penuh sesak oleh para politisi, pandangan dari kursi oposisi mendadak tertuju padanya.
“Saat itu suasana full house dan saya ingat melihat kepala-kepala mulai menoleh dari bangku seberang,” kenangnya. “Saya tampil beda dan di momen itulah saya benar-benar menyadari betapa besarnya arti dari terpilihnya saya saat itu.”

Mengukir Sejarah Baru di Parlemen Inggris
Pada pemilu 2019, di usia 32 tahun, Apsana Begum mencatatkan sejarah penting dalam dunia politik Britania Raya. Terpilih sebagai Anggota Parlemen (Member of Parliament/MP) dari Partai Buruh (Labour Party) untuk daerah pemilihan Poplar and Limehouse, ia resmi menjadi perempuan berhijab pertama yang mengamankan kursi di Parlemen Inggris.
Bagi Begum, keberadaannya di Parlemen bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan sebuah pintu yang terbuka lebar bagi generasi berikutnya. Kehadirannya membuktikan bahwa perempuan Muslim yang mengenakan hijab juga memiliki ruang, hak, dan suara di tingkat tertinggi pemerintahan.
“Sangat luar biasa rasanya bisa memberi orang-orang rasa harapan dan rasa aspirasi,” ungkap Begum. Ia merasa bahwa keberhasilannya berhasil merintis jalan bagi wanita-wanita berhijab lainnya di Britania Raya yang memiliki aspirasi serta cita-cita besar di dunia politik.
Menghadapi Retorika dan Tantangan Politik
Langkah menuju Westminster tidaklah tanpa hambatan. Begum terpilih di tengah iklim politik yang dipenuhi tantangan dan retorika diskriminatif. Kemenangannya diraih di era ketika komentar kontroversial mantan Perdana Menteri Boris Johnson—yang pernah membandingkan perempuan berhijab dengan “kotak surat” (letterbox)—menjadi sorotan publik dan memicu perdebatan mengenai Islamofobia.
“Kondisi saat itu, dengan situasi pemilu dan komentar ‘kotak surat’ dari mantan PM Boris Johnson… itu sangat berat,” kenang Begum mengingat tekanan psikologis dan tantangan politik yang harus dihadapinya ketika pertama kali menjabat.

Dukungan Kuat dari Konstituen London Timur
Keterpilihan Apsana Begum di wilayah Poplar and Limehouse membuktikan besarnya kepercayaan masyarakat setempat terhadap kepemimpinannya. Dengan mengantongi selisih puluhan ribu suara kemenangan, Begum berhasil mengukuhkan posisinya sebagai representasi penting bagi suara warga di salah satu kawasan paling multikultural dan beragam di ibu kota Inggris.
Hijab Sebagai Identitas dan Kebersamaan
Meski berhadapan dengan berbagai tantangan dan stereotip sosial, Begum tidak pernah goyah mempertahankan prinsipnya. Bagi Begum, hijab bukan sekadar pakaian religi atau penutup kepala, melainkan simbol kebersamaan dan bagian inti dari jati dirinya.
“Hijab adalah inti (core) dari siapa diri saya sebagai seorang individu,” tegasnya.
Kisah Apsana Begum menjadi pengingat kuat bahwa keberagaman dalam politik bukan sekadar formalitas keterwakilan angka, melainkan tentang keberanian untuk berdiri teguh pada identitas diri dan memberi harapan nyata bagi masyarakat yang selama ini merasa tidak terwakili.








