Kesenjangan Sosial di Balik Tren Wellness di Kehidupan Modern

Ketika gaya hidup wellness berbenturan dengan kebutuhan dasar—sebuah ironi yang semakin nyata di sekitar kita.

Di tengah maraknya tren hidup sehat, istilah wellness kini terasa semakin akrab di telinga. Mulai dari healthy bowl, kelas padel, hingga minuman seperti matcha premium semuanya dikemas sebagai bagian dari gaya hidup modern yang “ideal”. Namun, di balik estetika yang terlihat effortless di media sosial, ada satu realita yang jarang dibicarakan: wellness hari ini tidak lagi sekadar tentang sehat, tapi juga tentang akses dan pada akhirnya, tentang kelas sosial.

Scarflovers, pernahkah kita menyadari bahwa satu mangkuk healthy bowl seharga Rp80–120 ribu setara dengan beberapa kali makan di warteg? Atau satu jam bermain padel yang bisa menghabiskan Rp400–600 ribu, setara dengan penghasilan beberapa hari bagi sebagian pekerja? Bahkan, satu pasang sepatu lari branded bisa menyamai biaya pendidikan anak selama satu tahun di sekolah dasar. Di sinilah ironi itu muncul.

Baca juga  Kenaikan PPN 12%, Dari Kebutuhan Pokok hingga Layanan Digital

Wellness yang seharusnya inklusif tentang tubuh yang sehat, pikiran yang tenang, dan hidup yang seimbang perlahan bergeser menjadi simbol status. Apa yang kita konsumsi, olahraga apa yang kita pilih, bahkan tempat kita berolahraga, kini seperti menjadi “penanda” gaya hidup tertentu. Seolah-olah, semakin mahal pilihan wellness kita, semakin “valid” pula usaha kita untuk hidup sehat. Padahal, realitanya tidak sesederhana itu.

Bagi sebagian orang, hidup sehat bukan tentang memilih antara yoga atau pilates, tetapi tentang bagaimana memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Bukan soal memilih organic groceries, tapi memastikan dapur tetap mengepul. Ketika satu gelas matcha seharga Rp70 ribu bisa setara dengan dua hari upah pekerja tertentu, kita mulai melihat bahwa wellness bukan lagi ruang yang setara untuk semua. Namun, bukan berarti gaya hidup sehat harus selalu mahal.

Baca juga  Distribusikan Bantuan Bencana ke Sulawesi Barat, BNPB Gunakan Helikopter

Justru, mungkin sudah saatnya kita mengembalikan makna wellness ke esensinya. Jalan kaki di pagi hari, makan masakan rumah yang seimbang, tidur cukup, hingga menjaga kesehatan mental semuanya adalah bentuk wellness yang tidak selalu membutuhkan biaya besar. Sederhana, tapi seringkali terlupakan karena kalah dengan tren yang lebih “instagramable”.

Scarflovers, penting untuk menyadari bahwa apa yang kita lihat di media sosial hanyalah satu sisi dari realitas. Tidak semua orang memiliki akses yang sama, dan tidak semua bentuk wellness harus terlihat mewah untuk menjadi bermakna.

Pada akhirnya, wellness bukan tentang siapa yang paling mahal gaya hidupnya, tapi siapa yang paling mengenal kebutuhan dirinya.

Dan mungkin, di tengah hiruk-pikuk tren ini, kita bisa mulai bertanya ulang:
apakah kita sedang benar-benar hidup sehat, atau hanya sedang mengikuti standar yang dibentuk oleh sekitar?

Translate »