Dalam ajaran Islam, pergantian waktu bukan sekadar penanda usia, tetapi pengingat bahwa hidup terus berjalan menuju pertanggungjawaban. Penghujung tahun menjadi momen muhasabah merenungi perjalanan diri, memperbaiki niat, dan meninggalkan hal-hal yang tidak lagi mendekatkan kita kepada Allah. Menutup 2025 bukan tentang penyesalan, melainkan tentang kesiapan hati untuk melangkah lebih ringan.
Relasi yang Menjauhkan dari Ketenangan Iman
Islam mengajarkan pentingnya menjaga silaturahmi, namun juga menekankan perlunya menjaga hati dan akhlak. Relasi yang dipenuhi prasangka, luka, atau menjauhkan dari kebaikan perlu ditata ulang. Memberi jarak bukan berarti memutus kasih, melainkan bentuk ikhtiar menjaga diri agar tetap berada dalam jalan yang diridhai. Sebab, ketenangan adalah salah satu tanda hati yang dekat dengan Allah.
Kebiasaan Membandingkan Takdir
Sering kali tanpa sadar kita membandingkan hidup sendiri dengan kehidupan orang lain. Padahal dalam Islam, setiap takdir telah diukur dengan penuh hikmah. Terus membandingkan hanya akan melemahkan rasa syukur dan membuat hati jauh dari qanaah. Menjelang akhir 2025, meninggalkan kebiasaan ini adalah langkah kecil untuk kembali mempercayai bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Ekspektasi Berlebihan terhadap Dunia
Waktu adalah amanah. Kebiasaan yang membuat lalai dari ibadah, mengabaikan kesehatan, atau menguras energi tanpa manfaat sepatutnya ditinggalkan. Islam mendorong keseimbangan antara dunia dan akhirat. Mengganti kebiasaan kecil seperti memperbaiki waktu istirahat atau menjaga shalat di awal waktu bisa menjadi bentuk hijrah yang nyata dalam keseharian.
Menyimpan Luka Tanpa Memaafkan
Memaafkan adalah akhlak mulia yang berulang kali ditekankan dalam Islam. Menyimpan dendam hanya akan membebani hati dan menghalangi ketenangan. Menutup 2025 dengan belajar memaafkan baik orang lain maupun diri sendiri adalah langkah untuk membuka lembaran baru dengan hati yang lebih bersih.

Melupakan Hak Diri untuk Didekatkan kepada Allah
Di tengah kesibukan, sering kali kita lupa memberi waktu untuk diri sendiri agar kembali dekat dengan Allah. Padahal ketenangan sejati tidak lahir dari hiruk pikuk dunia, melainkan dari hati yang terhubung dengan-Nya. Akhir tahun bisa menjadi momentum untuk meninggalkan kelalaian dan memperkuat kembali hubungan spiritual.
Menutup tahun 2025 dalam perspektif Islam bukan tentang menghitung kegagalan, melainkan tentang memperbaiki arah. Dengan meninggalkan hal-hal yang menjauhkan dari ketenangan dan kebaikan, kita sedang menyiapkan ruang bagi keberkahan. Semoga langkah menuju tahun berikutnya diiringi hati yang lebih ringan, iman yang lebih kuat, dan keyakinan bahwa setiap proses selalu berada dalam genggaman-Nya.









