Fakta di Lapangan! Cari Kerja Makin Susah, PHK Diprediksi Berlanjut hingga 2030

Kondisi pasar tenaga kerja global dan nasional tengah menghadapi tantangan besar. Di lapangan, banyak pencari kerja merasakan semakin ketatnya persaingan, sementara gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) masih terjadi di berbagai sektor. Fenomena ini tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan perubahan struktur ekonomi, adopsi teknologi, serta transformasi dunia kerja yang diperkirakan akan terus berlangsung hingga 2030.

Sejumlah indikator menunjukkan bahwa mencari pekerjaan kini tidak semudah beberapa tahun lalu. Satu lowongan dapat diperebutkan oleh puluhan hingga ratusan pelamar, baik di sektor formal maupun informal. Kondisi ini diperparah oleh efisiensi perusahaan dan penyesuaian model bisnis yang membuat kebutuhan tenaga kerja semakin selektif.

Tekanan tersebut juga tercermin dari proyeksi keberlanjutan PHK dalam beberapa tahun ke depan. Mengutip laman resmi CNBC Indonesia pada Kamis, (8/1), survei terbaru World Economic Forum (WEF) mencatat bahwa 41% perusahaan di seluruh dunia mengaku berencana melakukan pengurangan karyawan secara signifikan hingga 2030. Salah satu faktor utama yang mendorong tren ini adalah meningkatnya penggunaan teknologi otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI), di mana banyak jenis pekerjaan berpotensi digantikan oleh mesin dan robot.

Baca juga  Update Pencarian Eril: Interpol Resmi Terbitkan Yellow Notice

Namun, laporan tersebut juga menunjukkan sisi lain dari transformasi dunia kerja. Dari ratusan perusahaan besar yang disurvei secara global, 77% menyatakan berencana melatih ulang (reskilling) dan meningkatkan keterampilan (upskilling) pekerja yang ada pada periode 2025–2030. Langkah ini dilakukan agar tenaga kerja tetap relevan dan mampu bekerja berdampingan dengan teknologi AI, bukan sekadar tergantikan olehnya.

Artinya, meskipun PHK diprediksi masih berlanjut, hal tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan hilangnya kesempatan kerja secara total. Pasar tenaga kerja tengah mengalami pergeseran, dari pekerjaan yang bersifat rutin menuju peran yang membutuhkan keterampilan baru, kemampuan analitis, kreativitas, serta penguasaan teknologi. Tantangan terbesar bagi pencari kerja bukan hanya soal ketersediaan lapangan kerja, tetapi juga kesiapan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri masa depan.

Baca juga  Mix and Match Gaya Classic oleh Tantri Namirah

Bagi pekerja dan pencari kerja, situasi ini menjadi pengingat pentingnya adaptasi. Meningkatkan keterampilan, mengikuti pelatihan, serta membuka diri terhadap bidang pekerjaan baru menjadi langkah strategis untuk bertahan di tengah perubahan. Sementara bagi pemerintah dan pemangku kebijakan, kondisi ini menuntut penguatan program pelatihan tenaga kerja dan perlindungan sosial bagi mereka yang terdampak PHK.

Fakta di lapangan memang menunjukkan bahwa mencari kerja semakin sulit dan PHK masih menjadi ancaman nyata hingga 2030. Namun, di balik tantangan tersebut, terbuka peluang bagi mereka yang mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi dan tuntutan dunia kerja baru. Transformasi ini bukan hanya soal kehilangan pekerjaan, melainkan tentang bagaimana tenaga kerja dipersiapkan untuk masa depan.

Translate »