Di tengah arus parenting modern yang serba cepat dan penuh distraksi, Ayudia Bing Slamet dan Ditto Percussion menjadi salah satu figur publik yang konsisten menerapkan mindful parenting dalam mengasuh putra mereka, Sekala. Lewat berbagai cerita yang dibagikan di media sosial maupun wawancara, pasangan ini menunjukkan bahwa mengasuh anak tidak selalu tentang aturan kaku, melainkan tentang kehadiran penuh, kesadaran emosi, dan hubungan yang hangat antara orang tua dan anak.

Mindful parenting yang diterapkan Ayudia dan Ditto berangkat dari kesadaran untuk benar-benar hadir secara utuh saat bersama Sekala. Mereka berupaya menurunkan distraksi, baik dari gawai maupun emosi negatif, agar bisa fokus pada kebutuhan anak. Dalam praktiknya, ini berarti mendengarkan Sekala tanpa menghakimi, memberi ruang bagi anak untuk mengekspresikan perasaannya, dan merespons dengan empati, bukan reaksi impulsif.
Mengakui Emosi Anak
Salah satu prinsip utama yang mereka terapkan adalah mengakui emosi anak sebagai sesuatu yang valid. Saat Sekala tantrum atau menunjukkan emosi kuat, Ayudia dan Ditto tidak langsung menenangkan dengan larangan atau ancaman. Sebaliknya, mereka mengajak anak mengenali perasaannya, memberi nama pada emosi tersebut, lalu membantu Sekala mencari cara menyalurkannya dengan lebih sehat. Pendekatan ini membantu anak belajar regulasi emosi sejak usia dini, sebuah fondasi penting dalam tumbuh kembang toddler.
Hadir dalam Kegiatan Keseharian yang Dilakukan Bersama Anak
Dalam keseharian, mindful parenting juga tercermin dari rutinitas sederhana yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Mulai dari waktu makan bersama, bermain tanpa distraksi, hingga membacakan buku sebelum tidur. Aktivitas-aktivitas ini tidak hanya menjadi momen bonding, tetapi juga sarana bagi orang tua untuk memahami ritme dan karakter anak. Ayudia dan Ditto percaya bahwa kualitas waktu jauh lebih penting dibanding kuantitas.
Terapkan Komunikasi yang Setara
Selain itu, pasangan ini juga menerapkan komunikasi yang setara dengan Sekala. Mereka terbiasa mengajak anak berdiskusi, memberi pilihan sederhana, dan menjelaskan alasan di balik sebuah aturan. Cara ini membuat anak merasa dihargai dan dilibatkan, bukan sekadar diperintah. Meski Sekala masih toddler, mereka meyakini bahwa anak tetap mampu memahami konteks jika dijelaskan dengan bahasa yang sesuai usianya.
Orang Tua Bukanlah Sosok yang Sempurna
Menariknya, mindful parenting ala Ayudia dan Ditto tidak menempatkan orang tua sebagai sosok sempurna. Mereka kerap membagikan bahwa proses mengasuh anak juga menjadi perjalanan belajar bagi diri sendiri. Saat emosi orang tua naik, mereka berusaha berhenti sejenak, bernapas, dan merefleksikan respons yang lebih bijak. Kesadaran diri ini menjadi bagian penting dari mindful parenting, karena emosi orang tua sangat memengaruhi suasana emosional anak.
Melalui pendekatan ini, Ayudia Bing Slamet dan Ditto menunjukkan bahwa mengasuh toddler bukan soal mengontrol, melainkan membangun koneksi. Mindful parenting membantu menciptakan lingkungan yang aman secara emosional, di mana anak merasa didengar, dipahami, dan dicintai. Gaya asuh ini pun menjadi inspirasi bagi banyak orang tua muda yang ingin membesarkan anak dengan lebih sadar, tenang, dan penuh empati.









