Anak GTM? Coba Pendekatan Stimulasi Sensorik yang Lebih Menyenangkan

Berinteraksi dengan makanan tanpa paksaan

Gerakan Tutup Mulut (GTM) menjadi salah satu tantangan yang paling sering dialami orang tua saat memasuki fase MPASI atau masa transisi makan anak. Ketika anak menolak makan, banyak orang tua fokus pada jenis makanan atau porsi, padahal GTM sering kali bukan semata soal lapar atau kenyang. Salah satu pendekatan yang kini semakin disarankan adalah stimulasi sensorik, yaitu membantu anak mengenal makanan melalui pengalaman yang menyenangkan dan bertahap.

A young girl eats an ice pop.
Image: kian zhang/Unsplash

Anak GTM kerap mengalami sensitivitas terhadap tekstur, aroma, rasa, atau bahkan tampilan makanan. Kondisi ini membuat anak merasa tidak nyaman saat makan, sehingga memilih menutup mulut atau menolak suapan. Di sinilah stimulasi sensorik berperan penting. Pendekatan ini mengajak anak menggunakan seluruh indranya penglihatan, penciuman, peraba, dan perasa untuk berinteraksi dengan makanan tanpa paksaan.

Stimulasi sensorik dapat dimulai dari hal sederhana, seperti mengajak anak menyentuh makanan dengan tangan, mencium aromanya, atau bermain dengan tekstur sebelum benar-benar memasukkannya ke mulut. Warna makanan yang menarik, bentuk yang familiar, serta penyajian yang ramah anak juga membantu menciptakan pengalaman makan yang lebih positif. Dengan cara ini, anak belajar bahwa makan bukanlah aktivitas yang menegangkan, melainkan menyenangkan.

Baca juga  7 Hal yang Dapat Anda Lakukan untuk Mempersiapkan Pernikahan
Image: medikidsclinic/Instagram

Menurut dr. Annisya Dwi Rianthi, Sp.A sebagai Dokter Spesialis Anak dikutip dari Instagram Medikidsclub, pendekatan sensorik penting untuk anak yang mengalami GTM. Ia menekankan bahwa proses makan tidak bisa dipaksakan. “Anak perlu dikenalkan pada makanan secara bertahap melalui pengalaman sensorik yang positif. Ketika anak merasa aman dan nyaman, minat makan akan muncul dengan sendirinya,” ujarnya. Pendekatan ini menempatkan kenyamanan anak sebagai prioritas utama.

Selain itu, stimulasi sensorik juga membantu anak membangun hubungan yang sehat dengan makanan dalam jangka panjang. Anak yang terbiasa mengenal berbagai tekstur dan rasa sejak dini cenderung lebih terbuka terhadap variasi makanan di kemudian hari. Hal ini penting untuk mencegah picky eating berkepanjangan dan mendukung tumbuh kembang optimal.

Baca juga  Tanda Seseorang Memiliki “Inner Child” yang Terluka serta Dampaknya

Orang tua juga perlu memahami bahwa proses ini membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Tidak semua anak langsung menunjukkan perubahan dalam waktu singkat. Namun, dengan rutinitas yang menyenangkan, tanpa tekanan, dan penuh dukungan emosional, anak akan perlahan lebih percaya diri saat makan. Lingkungan makan yang tenang, contoh dari orang tua, serta respons positif saat anak mencoba makanan baru turut memperkuat stimulasi sensorik yang diberikan.

Pada akhirnya, GTM bukan kondisi yang harus ditakuti. Dengan pendekatan yang tepat, seperti stimulasi sensorik, orang tua dapat membantu anak melewati fase ini dengan lebih nyaman. Fokuslah pada proses, bukan hasil instan. Ketika anak merasa didengar dan dihargai, pengalaman makan akan berubah menjadi momen belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna.

Translate »