Raja Charles III mendapat dukungan dari sejumlah pemimpin agama setelah secara resmi memperluas perannya sebagai pelindung masyarakat multiagama di Inggris. Langkah ini dinilai mencerminkan perubahan wajah Britania Raya yang kini semakin beragam dari sisi agama dan budaya.
Selama ini, raja Inggris dikenal sebagai Kepala Gereja Inggris (Church of England) sekaligus menyandang gelar Defender of the Faith atau Pembela Iman. Namun, peran tersebut kini dipahami secara lebih luas, yakni sebagai pelindung seluruh komunitas beragama di Inggris tanpa memandang keyakinan mereka.
Imam Masjid Abdullah Quilliam di Liverpool, Adam Kelwick, menyebut komitmen Raja Charles sebagai langkah yang mencerminkan kepemimpinan yang inklusif.
Menurutnya, para pemimpin besar sepanjang sejarah tidak hanya teguh memegang keyakinan mereka sendiri, tetapi juga melindungi hak masyarakat yang memiliki agama berbeda.
Kelwick bahkan mencontohkan beberapa tokoh sejarah yang menurutnya menunjukkan teladan serupa, seperti Nabi Muhammad SAW, Raja Najasyi (Negus) dari Ethiopia, Sultan Mehmed II Al-Fatih, hingga Paus Leo XIV. Ia menilai kepemimpinan yang kuat justru ditunjukkan melalui kemampuan menjaga keamanan dan kebebasan beragama bagi seluruh warga.
Ia juga berharap kebijakan tersebut dapat memberikan rasa aman bagi kelompok minoritas di Inggris, terutama di tengah meningkatnya narasi yang kurang ramah terhadap para migran dalam beberapa waktu terakhir.
Mencerminkan Inggris yang Semakin Plural
Pandangan serupa disampaikan Dr. Charlotte Bannister-Parker, Kanon Christ Church Cathedral Oxford sekaligus peneliti di Laudato Si Research Institute, Universitas Oxford.
Menurutnya, peran baru Raja Charles menunjukkan pemahaman bahwa Inggris kini berkembang menjadi negara yang semakin plural dengan masyarakat dari berbagai latar belakang agama.
Ia menilai seorang pemimpin perlu memahami realitas tersebut agar mampu membangun kepercayaan, saling pengertian, dan persatuan di tengah masyarakat.
Charlotte juga mengatakan Raja Charles selama ini dikenal aktif menghadiri berbagai forum dialog lintas agama serta mengunjungi rumah ibadah dari beragam komunitas. Dengan peran barunya, ia berharap raja dapat memberikan ruang yang lebih besar bagi komunitas agama yang terus berkembang di Inggris.
Simbol Persatuan
Dukungan juga datang dari Rabbi Herschel Gluck, Presiden Stamford Hill Shomrim sekaligus salah satu ketua Arab-Jewish Forum.
Menurutnya, Raja Charles selama ini menunjukkan kepedulian yang besar kepada seluruh rakyatnya. Peran sebagai pelindung masyarakat multiagama dinilai mengirimkan pesan bahwa setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama dan berhak mendapatkan perlindungan.
Ia berharap kepemimpinan Raja Charles dapat semakin memperkuat persatuan dan keharmonisan di tengah keberagaman masyarakat Inggris.
Menuai Kritik
Meski mendapat banyak sambutan positif, kebijakan tersebut juga menuai kritik.
Mantan pendeta Anglikan Gavin Ashenden, yang pernah menjadi salah satu pendeta kerajaan pada masa Ratu Elizabeth II sebelum berpindah ke Gereja Katolik, mempertanyakan perluasan makna gelar tersebut.
Ashenden menilai pendekatan yang menempatkan agama-agama Ibrahim dalam posisi yang setara merupakan pandangan yang tidak tepat. Ia juga menyampaikan kritik terhadap Islam dan mempertanyakan arah baru peran Raja Charles sebagai pelindung masyarakat multiagama.
Terlepas dari pro dan kontra yang muncul, langkah Raja Charles dinilai menjadi salah satu simbol perubahan peran monarki Inggris dalam menghadapi masyarakat modern yang semakin majemuk, dengan harapan dapat memperkuat dialog, toleransi, dan kehidupan berdampingan antarumat beragama.








