5 Hal Memahami Tujuan Pernikahan

Merefleksikan dan memahami tujuan pernikahan.

Pernikahan adalah salah satu ibadah kita kepada Allah swt., sebagai umat beragama. Tujuan utama pernikahan dalam Islam yaitu membangun sebuah keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah (keluarga yang diselimuti dengan ketentraman, kecintaan, serta rasa kasih sayang). Menjadi keinginan dari banyak setiap pasangan untuk bisa memiliki buah hati serta mendidik generasi barunya. Baru-baru ini banyak kabar perceraian dari publik figur tanah air. Untuk itu, beberapa hal ini yang menjadi tujuan pernikahan untuk merefleksikan diri.

1. Pernikahan bukanlah transaksional

Melansir dari NU Online, pernikahan seharusnya tidak melunturkan jati diri manusia sebagai makhluk yang berakal budi tentu ini perlu diikhtiarkan bersama. Sehingga pernikahan akan mencerdaskan akal budi dan menajamkan spiritual.

2. Tujuan pernikahan adalah melahirkan kemaslahatan

Baca juga  Doa Memohon Keturunan

Cara pandang kemaslahatan adalah saling support satu sama lain. Tanpa adanya ketimpangan diantara kedua pasangan. Semisal, masalah perekonomian ketika pasangan suami istri sedang mengalami problem keuangan maka maslahah bisa dilakukan dengan saling support satu sama lain. Ketika rezeki suami sedang macet, istrinya di-support untuk bisa kerja, suami sementara bisa mengurus urusan rumah dan segala macamnya.

3. Jodoh tidak statis, semua berproses

Selalu mengupayakan rumah tangga secara bersama. Memandang jodoh seperti halnya rezeki yang harus terus dicari. Demikian juga pasangan suami istri agar terus berjodoh maka perlu terus diupayakan bersama.

4. Persiapkan metal, finansial, dan intelektual

Setiap individu sebelum memutuskan menikah perlu mempertimbangkan tiga hal yakni mental, finansial dan intelektual hal ini untuk mencegah perceraian. Sepanjang menjadi suami istri diperlukan kemaslahatan atas dirinya, atas dasar iman sekufu. Soal sekufu atau standar juga sebenarnya ada pada takwa, bukan pada paras.

Baca juga  Semangat Awal Tahun dengan Mengevaluasi Syukur Kita

5. Jangan jadikan pasangan sebagai standar tunggal

Dalam berumah tangga, sebaiknya tidak jadikan kehidupan rumah tangga orang lain sebagai standar tunggal. Orang lain cukup dijadikan sebagai inspirasi bukan melulu jadi tuntutan. Barometer rumah tangga adalah ketakwaan kepada Allah swt. Tujuan pernikahan diluruskan, diarahkan sejalan dengan tujuan hidup, lalu berproses bersama. Walaupun sudah menikah, ketakwaan tiap orang tetap independen di hadapan Allah swt. Jadi tidak ada istilah suami bertanggung jawab atas dosa istri begitupun sebaliknya. Jika salah satu diantara pasangan menyeleweng dari aturan, maka diperbaiki bersama, tidak menuntut, maupun menyalahkan.

Translate »