Klarifikasi NU Soal Iduladha di Indonesia Berbeda dengan Arab Saudi

Letak geopolitik yang menyebabkan perbedaan.

24

Pemerintah Arab Saudi menetapkan Iduladha, 10 Dzulhijjah 1443 H jatuh pada Sabtu, 9 Juli 2022. Hal ini mengingat hilal awal Dzulhijjah 1443 H berhasil terlihat pada Rabu, 29 Juni 2022 atau bertepatan dengan 29 Dzulqa’dah 1443 H. Hal ini berarti tanggal 1 Dzulhijjah 1443 H jatuh pada Kamis, 30 Juni 2022.

“Menyusul penampakan hilal pada Rabu malam, diumumkan bahwa perayaan Iduladha lima hari akan dimulai pada 9 Juli. Ini akan menjadi hari ke-10 Dzulhijjah, bulan ke-12 dalam kalender Hijriah Islam,” demikian dikutip dari Arab News pada Kamis (30/6/2022).

Artinya, jamaah haji akan melaksanakan wukuf di Arafah pada Jumat, 8 Juni 2022 bertepatan dengan 9 Dzulhijjah 1443 H.

Hal ini berbeda dengan keputusan Pemerintah Indonesia yang menetapkan 1 Dzulhijjah 1443 H jatuh pada Jumat, 1 Juli 2022 M. Hal ini berarti Iduladha, 10 Dzulhijjah 1443 H jatuh pada Ahad, 10 Juli 2022.

Image : freepik

Melansir dari NU Online, Ketua Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) menyampaikan bahwa secara syar’i, awal hari dimulai dari saat terbenam (ghurub) matahari hingga terbenam berikutnya.

Jarak antara kedua negara cukup jauh, secara geopolitik juga berbeda karena tidak dalam satu kawasan. Sehingga meniscayakan adanya perbedaan dalam memulai hari.

Di lain pihak, lanjut Kiai Sirril, ketampakan posisi bulan/hilal yang menandai masuknya awal bulan bisa berbeda. Untuk kasus awal Dzulhijjah tahun ini, di Arab Saudi posisi hilal baik tinggi maupun elongasinya sudah memungkinkan untuk dapat dirukyat. Meskipun kriteria yang digunakan bisa beda dengan Indonesia.

Sementara di Indonesia, mengambil sikap dengan penerapan kriteria baru (Neo MABIMS dengan tinggi hilal minimal 3 derajat, elongasi minimal 6,4 derajat) dan di seluruh Indonesia belum mencapai kriteria. Hal itu diperkuat laporan hasil rukyat yang nihil.

“Jadi dengan penjelasan ini, antara kedua negara suatu saat bisa jadi bersamaan dalam mengawali bulan, bisa jadi beda seperti sekarang ini,” terang dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Hasil perhitungan dengan metode ilmu falak ala Nahdlatul Ulama, ketinggian hilal awal Dzulhijjah 1443 H mencapai + 2 derajat 11 menit 00 detik dan lama hilal 11 menit 38 detik untuk markaz Gedung PBNU Jakarta koordinat 6º 11’ 25” LS 106º 50’ 50” BT. Sementara konjungsi atau ijtimak bulan terjadi pada Rabu Legi 29 Juni 2021, pukul 09:52:15 WIB.

Sementara itu, letak matahari terbenam berada pada posisi 23 derajat 16 menit 57 detik utara titik barat, sedangkan letak hilal pada posisi 27 derajat 22 menit 41 detik utara titik barat.

Adapun kedudukan hilal berada pada 4 derajat 05 menit 16 detik utara matahari dalam keadaan miring ke utara dengan elongasi 5 derajat 04 menit 35 detik.