Bank Indonesia Berencana Terbitkan Rupiah Digital, Ini 6 Tujuannya!

Rencana CBDC menimbang popularitas kripto di dunia.

11

Deputi Gubernur BI Doni P Joewono mengakui perkembangan kripto sebagai aset berkembang sangat pesat di dunia, maupun Indonesia sendiri, karena memberikan keuntungan. Akan tetapi, sebagai alat pembayaran tidak pernah diakui di dalam negeri karena mengandung risiko berbahaya.

“Dari perspektif keuangan makro, aset kripto dapat digunakan untuk pencucian uang, penghindaran pajak, dan mengganggu stabilitas keuangan,” tuturnya dikutip dari indonesia.go.id.

Dalam rangka itu, Bank Indonesia pun berencana menerbitkan panduan (white paper) rupiah digital sebagai mata uang digital resmi bank sentral (CBDC) akhir 2022. Hal ini untuk mengakomodasi pesatnya perkembangan digitalisasi dan penggunaan aset kripto, seperti Bitcoin selama pandemi Covid-19.

Panduan ini sebagai langkah besar yang ditempuh BI sebelum menerbitkan rupiah digital. Sebab, ada berbagai risiko yang harus diantisipasi ketika rupiah digital terbit, seperti stabilitas ekonomi, moneter, dan sistem keuangan.

Image : Freepik

Menurut Doni, setidaknya terdapat enam tujuan penerbitan CBDC, antara lain:

  1. Menyediakan alat pembayaran digital yang bebas risiko menggunakan rupiah digital.
  2. Memitigasi risiko sovereign digital currency.
  3. Memperluas efisiensi dan tahapan sistem pembayaran termasuk cross border.
  4. Memperluas dan mempercepat inklusi keuangan.
  5. Menyediakan instrumen kebijakan moneter.
  6. Memfasilitasi distribusi fiscal subsidy.

Rupiah digital atau CBDC nantinya dirancang untuk dapat digunakan melalui transfer uang tunai maupun surat berharga. Selain itu, rupiah digital itu dapat menyasar seluruh masyarakat di Indonesia, khususnya untuk daerah terpencil dan tertinggal.

Tidak itu saja, Bank Indonesia diharapkan juga harus bisa memastikan CBDC saling terhubung atau interoperabilitas, interkonektivitas, dan integrasi (3I) dalam sistem pembayaran, seperti RTGS, kliring sistem, ATM dan kartu debit. Yang terpenting lahirnya uang digital jangan sampai menimbulkan sumber risiko baru yang dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi, moneter, dan sistem keuangan.