Bulan Syawal Jadi Kenangan Terindah Pernikahan Nabi Muhammad dan Siti Aisyah

Terdapat dua hikmah penting!

17

Masya Allah, pernikahan Rasulullah SAW dengan Siti Aisyah berdasarkan petunjuk langsung dari Allah SWT. Sebelum menikahi Aisyah, Rasulullah mendapatkan isyarat untuk menikahinya melalui mimpi yang dialami sampai tiga kali. Untuk diketahui, mimpi seorang nabi merupakan wahyu. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis riwayat Muslim:

“Dari Aisyah, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Aku bermimpi tentangmu selama tiga malam. Malaikat membawamu dalam sebuah tempat yang terbuat dari sutera. Malaikat itu kemudian berkata, ‘Ini adalah istrimu.’ ‘Aku buka wajahmu ternyata engkau di dalamnya.’ Aisyah berkata, ‘Jika ini datang dari Allah, maka akan berlanjut.’ ” (HR. Muslim).

Lantas, bagaimana dengan dua hikmah penting dari pernikahan Rasulullah SAW dengan Siti Aisyah, ya?

Nabi Muhammad menikahi Siti Aisyah bukan karena nafsu jasmani, layaknya manusia pada umumnya. Rasulullah menikahinya murni berdasarkan pada wahyu dari Allah SWT melalui mimpi yang dialami berulang kali.

Bukan tanpa alasan, Allah SWT menyuruh Rasulullah untuk menikah demi sebuah kemaslahatan. Dengan menjadi istri Rasulullah sejak usia dini dan kecerdasan yang dimilikinya, Aisyah banyak merekam jejak kehidupan Nabi yang tidak bisa dijangkau oleh para sahabat. Atas karunia tersebut, Aisyah banyak meriwayatkan hadis dan menjadi corong intelektual pada zamannya, sehingga banyak ulama yang terbantu dengan kontribusinya.

Selain itu, Syawal merupakan bulan baik untuk menikah. Pernikahan Nabi Muhammad dengan Siti Aisyah di bulan Syawal dijadikan dasar para ulama sebagai dalil kesunnahan menikah di bulan tersebut.

“Dari Sayyidah ‘Aisyah radliyallâhu ‘anha berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahiku di bulan Syawal, dan mulai mencampuriku juga di bulan Syawal, maka istri beliau manakah yang kiranya lebih mendapat perhatian besar di sisinya daripada aku?’ Salah seorang perawi berkata, ‘Dan Aisyah merasa senang jika para wanita menikah di bulan Syawal.” (HR. Muslim dan At-Tirmidzi).

Imam Nawawi menerangkan bahwa hadis ini menjadi anjuran menikah, menikahkan, dan melakukan hubungan suami istri di bulan Syawal.