Heboh Pawang Hujan di Mandalika, Begini Penjelasan Menurut Hukum Islam

Jangan sampai keliru

144

Pergelaran ajang balap MotoGP di Sirkuit Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat pada Minggu (20/3/2022), telah sukses dilaksanakan. Namun, ada satu hal unik dan paling menarik perhatian yaitu, adanya aksi pawang hujan yang mengitari arena balap Sirkuit Mandalika saat hujan turun. Sontak saja, aksi perempuan bernama Rara Istiani Wulandari itu menuai kritik dari warganet.

Lantas, apakah keberadaan pawang hujan dibenarkan dalam ajaran Islam? Ketahui ulasannya berikut ini.

Sebagai umat Muslim, kita wajib menyakini bahwa hujan turun sebagai anugerah dan merupakan kehendak langsung dari Sang Pencipta. Hal ini diterangkan dalam Al-Qur’an surat Fathir ayat 2,

 “Apa saja di antara rahmat Allah yang dianugerahkan kepada manusia, maka tidak ada yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan-Nya maka tidak ada yang sanggup untuk melepaskannya setelah itu. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.”

Al-Qurthubi menerangkan tentang kandungan ayat tersebut bahwasannya, “Hujan atau rezeki yang Allah datangkan pada mereka, tidak ada satu pun yang dapat menahannya. Jika Allah menahannya untuk turun, maka tiada ada seorang pun yang dapat menurunkan hujan tersebut.”

Untuk itu, alih-alih memindahkan lokasi hujan ke tempat lain atau bahkan menghentikannya, justru Rasulullah SAW, menganjurkan umat Muslim untuk membaca doa di kala sedang turun hujan.

“Allahumma hawalayna wa la ‘alayna, Allahumma alal akami wad thirobi, wa buthunil audiyyati wa manabitis syajari.”

Artinya: “Ya Allah turunkanlah hujan di sekitar kami, dan jangan turunkan kepada kami untuk merusak kami. Ya Allah turunkanlah hujan di dataran tinggi, beberapa anak bukit, perut lembah dan beberapa tanah yang menumbuhkan pepohonan.”

Doa di atas merupakan sebagai pengingat bahwa kita hanya mampu meminta perlindungan kepada Allah saat sedang hujan. Bukan sebaliknya, mengandalkan kekuatan magis dengan memakai jasa pawang hujan untuk memindahkan lokasi hujan atau menghentikannya. Hal itu akan mendekatkan diri kepada perbuatan syirik, dosa besar yang tidak akan diampuni oleh Allah. Naudzubillah.