“Kami Butuh Makanan dan Selimut”, Lirih Para Pengungsi di Gaza yang Membutuhkan Bantuan

149

Pesawat tempur Israel terus membombardir jalur Gaza pada hari Senin, sehari setelah melakukan serangan tak terpuji yang membuat pecahnya konflik terbaru antara militer Israel dan Hamas. Pada gilirannya konflik tersebut telah berimplikasi pada penderitaan dan meningkatnya potensi penggusuran beberapa keluarga Palestina di Gaza. Hal itu akan membuat jumlah pengungsi semakin bertambah dan menimbulkan kurangnya pasokan makanan.

Menurut otoritas kesehatan Gaza, pengeboman yang dilakukan Israel di Jalur Gaza pada minggu kedua, telah menewaskan sedikitnya 201 warga Palestina, termasuk 58 anak-anak dan 35 wania, serta telah lebih dari 1.300 lainnya terluka. Otoritas kesehatan setempat juga telah meminta komunitas internasional untuk melindungi sistem kesehatan yang sudah rapuh di Jalur Gaza.

image: wsj.com

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan lebih dari 38.000 warga Palestina di Gaza telah mengungsi dan mencari perlindungan di 48 sekolah yang dikelola UNRWA, badan PBB untuk pengungsi Palestina. Angka tersebut mencakup setidaknya 2.500 orang yang rumahnya hancur total dalam pemboman Israel.

Al-Abreed merupakan satu dari sejumlah pengungsi yang terdampak dari serangan brutal Israel baru-baru ini.

“Kami membutuhkan makanan, pakaian, selimut, kasur dan susu,” kata Al-Arbeed, yang baru saja melahirkan beberapa minggu lalu saat melakukan wawancata telepon kepada Al Jazeera. “Punggungku sakit karena tidur di atas selimut tipis di lantai,”katanya.

Juru bicara UNRWA, Adnan Abu Hassan melalui pernyataan singkatnya mengatakan bahwa badan tersebut  telah menyediakan beberapa kebutuhan pokok bagi para pengungsi.

“Kami sangat membutuhkan dukungan,” ujarnya mengacu pada penutupan perbatasan yang digunakan untuk membawa bantuan oleh Israel sejak 10 Mei lalu.

Majda Abu Karesh, seorang ibu dari tujuh anak yang rumahnya telah dihancurkan di Beth Lahia, mengatakan bahwa keluarganya harus mengurus sendiri terkait kebutuhan pokok.

“Selama lima hari kami tidur di lantai kosong, dan kami belum menerima makanan atau persediaan apa pun dari UNRWA. Bahkan tidak ada air minum yang bersih, dan toiletnya berantakan,” ujarnya.

Shaher Barda dan keluarganya yang juga terpaksa mengungsi mengatakan bahwa agen pengungsi tidak terlalu peduli dengan situasi para pengungsi.  Menurutnya tinggal di pengungsian bukanlah pilihan, namun karena rumah mereka telah hancur dan tidak ada yang bisa selamat dari serangan brutal Israel.

“Kami ingin dunia mendukung kami. Kita semua harus berdiri bersama. Tapi sekarang kami hanya perlu selimut untuk anak-anak, yang tidak bisa tidur semalam karena kedinginan,” ucap para pengungsi.

(CD)