Cerita Hijrah dr. Tirta yang Berawal dari Mimpi

381

Perjalanan spiritual seseorang memang selalu menjadi hal menarik untuk diulik. Bagaimana sebuah proses perjalanan yang menuntun dirinya untuk hijrah dan menjadi lebih baik.

Salah satunya adalah perjalanan dr. Tirta dalam menemukan Islam.

Dalam acara Muslimah Creative Stream Fest 2020, ia berujar bahwa memang ia terlahir dari orang tua yang berbeda agama. Ayahnya seorang muslim dari Jawa, dan ibunda seorang non muslim keturunan Chinese.

Alhasil, itulah yang membuatnya mempelajari dua agama sekaligus.

“Tirta kecil berfikirnya kalo saya belajar dua agama, tiket masuk ke surga lebih cepet. Jadi saya Jumat TPA, Minggu saya sekolah minggu ke gereja. Disitulah saya belajar dua agama itu, tapi di KTP, strip saya pada waktu itu.” ujarnya seraya bercerita secara virtual di acara Muslimah Creative Stream Fest Vol 2 2020.

Berlanjut pada tahun 2013, dimana saat itu sang ayah sedang menjalankan ibadah umroh, dr. Tirta mendapatkan sebuah mimpi dalam tidurnya, mimpi diangkat ke atas ke sebuah pintu besar yang dijaga oleh dua malaikat yang menyuruhnya ke sebuah rumah berwarna hijau yang disana terdapat sembilan Kiyai yang memakai sorban.

“Disitu ceritanya ada keranda warna ijo dan saya mengetahui bahwa di keranda warna ijo itu ada orang bangkit. Gak keliatan mukanya, tapi bercahaya. Abis itu saya dikasih amplop di kemeja kiri saya (saya masih inget), terus saya bangun dalam keadaan tersengal-sengal.” ujar dr. Tirta.

“Setelah bapak saya umroh tuh saya mendengar terus-terusan selama 5 kali suara azan di kuping kiri dan kanan. Di hari keenam saya ketemu Pak Kiyai Subori saya mau mengucapkan dua kalimat syahadat.” katanya menambahkan.

Saat itu, ia telah memiliki banyak tato di tubuhnya. Namun setelah bertanya pada Guru Besarnya, dikatakan bahwa ia tidak perlu menghapus tato tersebut. Karena bisa menjadi salah satu bukti syiar nantinya.

Setelah memeluk Islam, dr. Tirta mengatakan ada banyak hal yang berubah dari dirinya, ia belajar bagaimana caranya menjadi seorang pemimpin di Islam itu harus selalu berjuang bagi orang lain. Selain itu ia juga belajar sedekah, aman serta menyumbang untuk ibadah kurban, mulai aktif di kegiatan mesjid, lebih akrab dengan teman-teman di organisasi Islam dan pemuda muslimin.

dr. Tirta pun juga mengikuti gerakan bangkit dari mesjid untuk mengakomodasi bahwa mesjid adalah sebuah tempat syiar kebaikan dan pusat perlawanan Covid.

“Jadi itu yang merubah, dan teman saya banyak yang berbagi. Jadi saya lebih mengatur tutur kata saya. Itu yang paling saya suka”

Selain itu nilai-nilai Islam yang sangat dipegang dr.Tirta adalah ikhlas. Menurutnya ikhlas adalah sebuah hal yang tidak bisa ia lakukan dari dulu, namun perlahan ia mencoba untuk memperdalamnya. (AA)