Pentingnya Muhasabah Diri di Bulan Ramadan

13

Muhasabah diri adalah hal yang wajib dilakukan oleh manusia sebagai kegiatan untuk mengintropeksi diri terkait dengan hal-hal perbuatan, perilaku atau pun ucapan yang telah dilakukan sebelumnya.

Muhasabah sangat penting dilakukan karena merupakan perintah dari Allah SWT, seperti yang dilansir dari muslim.or.id.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18).

Seperti pada bulan baik seperti halnya bulan Ramadan ini, sangat penting bagi kita untuk melakukan muhasabah atau intropeksi diri. Sebagaimana kita mengingat perbuatan di masa lalu dan berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya.

Jadi, alangkah baiknya saat di bulan Ramadan kita berusaha untuk mengubah perilaku kita, tutur kata kita dan segala macamnya ke arah yang baik. Karena sebagai seorang manusia, adalah hal yang sangat wajar apabila melakukan kesalahan atau pun kekeliruan mengenai ucapan dan perbuatan.Itulah mengapa pentingnya kita melakukan muhasabah diri. Karena muhasabah adalah sifat hamba Allah SWT yang bertaqwa. Muhasabah akan membantu seseorang untuk menghadapi berbagai rintangan yang ia temukan dalam pencariannya akan bekal tersebut. Maimun bin Mahran rahimahullah berkata:

لَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ تَقِيًّا حَتَّى يَكُوْنَ لِنَفْسِهِ أَشَدُّ مُحَاسَبَةً مِنَ الشَّرِيْكِ الشَّحِيْحِ لِشَرِيْكِهِ

“Tidaklah seorang hamba menjadi bertaqwa sampai dia melakukan muhasabah atas dirinya lebih keras daripada seorang teman kerja yang pelit yang membuat perhitungan dengan temannya”.

Perbaikilah diri selama masih bisa, karena Allah Maha Pemaaf dan Maha Pengampun bagi segala umatnya. Terus perbaiki diri, dan selalu ingat untuk selalu menjalani perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena buah manis dari muhasabah adalah sebuah taubat. Muhasabah yang mengantarkan kepada pertaubatan di awali dengan memasuki gerbang penyesalan. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

النَّدَامَةُ تَوْبَةٌ

Menyesal adalah taubat.” (HR.Ibnu Majah no. 4252, Ahmad no.3568, 4012, 4414 dan 4016. Hadist ini dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahiih al-Jaami’ ash-Shaghir no.6678) (AA)